Bila Anak tidur larut malam

Agustus 7, 2008 pukul 4:15 am | Ditulis dalam Orang Tua dan Buah Hati | 1 Komentar
Tag:

Sempat kewalahan sama anak yang boboknya malem banget. Sampai tengah malam, baru deh, matanya terpejam.

Agar Tidur Bayi Nyenyak di Malam Hari

Saat malam hari seringkali orangtua tidak dapat tidur dengan nyenyak karena bayinya sering terbangun. Jika orangtua ingin bayinya tidur lebih lama di malam hari, maka ubahlah cara tidur bayi pada siang hari sehingga bayi lebih nyenyak ketika tidur malam.

Bayi yang diberi makan sesuai waktu saat bayi lapar dan menggendongnya dipangkuan ibu selama siang hari akan membuat tidur siangnya seperti pola tidur-tidur ayam. Ini akan berguna untuk menghemat waktu tidurnya dan akan memiliki waktu tidur malam yang lebih lama.

Sebenarnya siklus tidur bayi lebih singkat daripada siklus tidur orang dewasa, karena bayi memiliki masa tidur yang tidak lelap lebih banyak dibandingkan tidur lelapnya. Karena definisi medis untuk tidur sepanjang malam adalah tidur dalam waktu lima jam terus menerus.

Bayi biasanya terbangun 2-3 kali setiap malamnya sejak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan, 1-2 kali untuk usia 6 bulan hingga satu tahun dan terbangun 1 kali pada usia satu hingga dua tahun.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orangtua agar bisa membuat bayinya tidur dengan nyenyak di malam hari, seperti dikutip dari The Baby Book karangan William Sears dan Martha Sears, Selasa (24/11/2009):

  1. Bantulah bayi memahami bahwa siang hari saatnya makan dan malam hari saatnya tidur atau istirahat. Cobalah untuk memberi makan bayi setiap 3 jam sekali di siang hari.
  2. Gendonglah bayi pada siang hari. Meningkatnya frekuensi kedekatan dan keakraban meningkatkan ketenangan dan bayi yang tenang pada siang hari cenderung tenang juga pada malam hari.
  3. Kenyangkan bayi sebelum tidur. Usahakan untuk menyusui bayi hingga kenyang sebelum tidur dan saat bayi terbangun di malam hari.
  4. Kenakan baju tidur yang tepat. Cobalah untuk menggunakan berbagai baju tidur bayi untuk melihat baju apa yang dapat membantunya tidur lebih tenang. Umumnya bayi dapat tidur lebih baik jika bajunya terbuat dari bahan katun.
  5. Rebahkanlah bayi di tangan ibu. Kehangatan tangan ibu bisa memberikan sentuhan tambahan yang dibutuhkan bayi untuk membantunya tertidur sambil memberikan tepukan lembut di punggung atau bokong bayi. Lepaskan tangan secara perlahan agar tidak membangunkannya.
  6. Buatlah tempat yang tenang untuk tidur. Umumnya bayi bisa membiasakan diri untuk tidak terjaga dengan suara-suara yang sering didengarnya, tapi akan terbangun jika mendengar suara yang mendadak atau mengagetkannya.
  7. Tentukan temperamen bayi di malam hari. Setiap bayi berbeda temperamennya, ada bayi yang bisa menenangkan diri sendiri tapi ada juga yang merengek saat bangun. Jika cepat menghampiri bayi sebelum benar-benar terbangun, maka lebih mudah untuk menidurkannya kembali.

Orangtua tidak bisa memaksa bayinya untuk tidur. Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman adalah cara terbaik untuk membuat bayi lebih cepat tidur dan jangka waktu tidurnya lebih panjang, sehingga bayi tidak akan sering terbangun di malam hari.

(ver/ir) http://health.detik.com/read/2009/11/24/150025/1247895/764/agar-tidur-bayi-nyenyak-di-malam-hari

 

Sekedar ngumpulin artikel dari tabloid nakita tentang balita tidur malam. Belum sempat nge-edit. Semoga ada manfaatnya .

AGAR SI KECIL GAMPANG TIDUR

Pada sebagian anak batita, tidur bukanlah hal mudah. Lakukan kiat-kiat yang menyenangkan agar ia bisa tidur dengan perasaan nyaman.

Walau sudah mengantuk, si kecil masih berkeras untuk bermain. Akibatnya bisa ditebak, ia jadi rewel dan kalau tidak puas sedikit saja, amukannya gampang meledak. Barulah setelah merasa lelah, ia tak kuat lagi menahan kantuknya dan tertidur.

Tentu saja, agar tak kurang tidur, orang tua harus tahu bahwa umumnya anak-anak batita memerlukan waktu istirahat sekitar 10 sampai 13 jam setiap hari. Dengan catatan, kata Mira D. Amir, Psi., lamanya waktu istirahat ini berbeda untuk setiap anak. Ada anak yang memerlukan waktu tidur lama, tapi ada juga yang relatif sedikit.

Jadi, apakah menjelang tidurnya si batita rewel atau tidak, orang tua sebaiknya tetap menentukan jam berapa ia sudah harus bersiap masuk kamar dan jam berapa harus bangun esok harinya. Ada yang mematok tidur jam 7 atau jam 8 malam, terserah saja. Namun sebaiknya memang tidak terlalu larut agar di pagi hari si kecil sudah bisa bangun dengan waktu tidur yang cukup.

Selebihnya, untuk menghindari sikap rewel itu, Mira menawarkan kiat-kiat agar si batita bisa tidur dengan mudah:

* Menepati Jadwal

Bersikaplah konsisten dengan jadwal tidur yang telah ditetapkan. Jika sudah ditentukan jam 8 malam, usahakan setiap hari anak tidur pada jam tersebut. Jangan biarkan teve atau radio menyala. redupkan lampu kamar atau kalau perlu matikan lampu-lampu di area lainnya dan bimbinglah anak masuk kamar tidur. Pola tidur yang terjadwal akan memudahkan anak untuk tidur. Kecuali jika ada alasan sangat mendesak, sesekali boleh saja anak keluar dari rutinitas tersebut.

* Bersih-bersih Sebelum Tidur

Berbeda dengan orang dewasa yang bisa langsung tertidur pulas begitu “mencium” kasur, anak-anak umumnya menginginkan ritual tertentu menjelang tidur. Luangkan beberapa menit untuk melakukan rutinitas seperti menggosok gigi, mengenakan baju tidur, serta mencuci tangan dan kaki. Berhubung anak usia ini masih dalam tahap praoperasional, beri contoh langsung dan biarkan anak mengikutinya. Tanpa contoh konkret, jangan harap kita bisa dengan gampang menyuruhnya melakukan hal-hal tadi. Lakukan semua aktivitas tersebut dengan sikap santai dan suasana gembira.

* Mengucapkan Doa

Ada baiknya setelah rutinitas fisik selesai dilakukan, orang tua membangun suasana tenang dengan mengajarkan anak mengucapkan doa-doa pendek. Terangkan secara sederhana makna atau harapan dari doa tersebut.

* Mendongeng Sebelum Tidur

Dongeng tak hanya bermanfaat sebagai pengantar tidur anak, tapi juga merangsang perkembangannya. Lewat dongeng, perkembangan verbal, imajinasi, kosakata, sekaligus relasi dengan orang tuanya bisa terjalin dengan baik. Jadi, amat disayangkan jika orang tua melewatkan malam menjelang tidur tanpa mendongeng. Tak perlu mengarang atau membacakan cerita baru setiap malam, tapi cukup dengan mengulang-ulang dongeng kemarin. Ingat, anak usia ini umumnya sangat menikmati pengulangan cerita. Tak lama kemudian biasanya ia akan tertidur.

* Ciptakan Tidur yang Menyenangkan

Selain acara ritual di atas, orang tua juga bisa membuat acara tidur sebagai sesuatu yang menyenangkan. Semisal dengan mengucapkan selamat tidur kepada boneka atau mainan kesayangannya, atau malah mengajak bonekanya ikut tidur bersamanya. Atau biarkan anak berceloteh tentang kegiatannya sepanjang hari tadi maupun menyanyikan lagu-lagu kegemarannya saat hendak tidur. Dengan begitu anak bisa mengekspresikan perasaannya dan merasa bahagia.

* Sediakan Kamar Sendiri

Alangkah baiknya, jika kondisi memang memungkinkan, anak usia batita tengah atau akhir, mendapat kamar sendiri atau minimal tempat tidur sendiri. Upaya ini bisa memacu anak untuk lebih mandiri sementara ketergantungan pada orang tua bisa diminimalkan.

Semisal ia jadi tertantang untuk belajar menghadapi rasa takutnya atau tidak membangunkan orang tua saat hendak buang air kecil. Orang tua juga jadi lebih mudah untuk membiasakan anak berada dalam kamarnya pada jam-jam tertentu.

Sebaliknya, jika belum bisa, jangan pernah paksa anak untuk tidur sendiri. Menurut Mira, hal ini wajar karena anak usia batita belum sepenuhnya bisa berpisah dari orang tuanya. “Jangankan anak batita, di Indonesia anak usia SD pun masih ada yang tidur bareng orang tuanya, kok.”

* Ciptakan Rasa Aman dan Nyaman

Orang tua sebaiknya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi anak sebelum tidur. Entah dengan memeluk si kecil atau mengusap-usapnya beberapa saat sebelum tidur. Cara itu, selain bisa membuat anak lebih cepat tidur, juga memungkinkan hubungan orang tua dan anak jadi lebih akrab dan hangat. Kalau anak terbangun di malam hari, orang tua harus memberikan rasa aman agar anak bisa tidur kembali.

* Atasi Rasa Takut

Banyak anak batita tidak bisa tidur karena benaknya dipenuhi perasaan takut akibat imajinasinya sendiri. Seperti ada harimau yang menungguinya di kolong tempat tidur atau makhluk aneh bertengger di atas lemari. Penjelasan sederhana sekaligus konkret amat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Hindari penjelasan yang kelewat rasional.

Jadi, omongan saja bahwa tidak ada harimau dan makhluk aneh di kamarnya tidaklah tepat. Akan lebih baik jika orang tua mengajarkan kepada anak untuk menghadapi ketakutannya. Semisal dengan menyingkap sprei dan memeriksa kolong tempat tidurnya sambil bilang, “Lo, kok harimaunya sudah enggak ada di kolong tempat tidur. Wah dia sudah kabur takut sama Adek.” Dengan begitu, anak terbiasa menghadapi ketakutan yang dialaminya.

Orang tua hendaknya juga menunjukkan sikap mampu mengatasi ketakutannya sendiri. Ingat lo, orang tua yang penakut biasanya akan melahirkan anak-anak yang penakut juga. Lagi pula bagaimana mungkin orang tua bisa mengajarkan anaknya mengatasi rasa takut jika ia sendiri tidak mampu mengelola perasaaan cemas atau takut yang berlebihan.

* Hindari Aktivitas Fisik yang Menguras Tenaga

Banyak orang tua menyangka setelah lelah si kecil pasti bisa cepat tidur dan langsung terlelap. Padahal yang terjadi mungkin sebaliknya, aktivitas fisik yang berlebihan sebelum tidur malah akan membuat tubuhnya bertambah segar karena peredaran darahnya jadi kian lancar. Bukan mustahil bila semalam suntuk anak malah akan terjaga terus. Kalaupun orang tua ingin menyempatkan waktu untuk membina kebersamaan dengan si kecil sebelum dia tidur, pilihlah aktivitas menyenangkan yang relaks, seperti membaca buku cerita.

* Jauhi Segala Bentuk Ketegangan

Ketegangan bisa muncul tanpa disadari jika anak menyaksikan lewat film laga, film horor, dan mendengar musik yang kelewat riang atau ingar bingar. Dalam kondisi tegang seperti itu manalah mungkin mengharapkan anak mudah memejamkan matanya. Lebih baik putarkan lagu-lagu berirama lembut atau film-film kartun pendek yang adegannya diulang-ulang. Dengan begitu daya konsentrasi yang diperlukan untuk menikmati acara tersebut akan melemah, dan anak jadi mudah disergap rasa kantuk.

* Batasi Porsi Tidur Siang

Meski memberi manfaat bagi kesehatan anak, batasi porsi tidur siangnya jangan sampai melebihi 2 jam. Terlalu banyak tidur siang juga bisa membuat anak sulit tidur di malam harinya. Akibatnya, anak malah tidak akan bisa tidur pada jam yang telah dijadwalkan. Imbasnya, esok hari dia akan bangun kesiangan.

* Hindari Konsumsi Makanan Padat Menjelang Tidur

Usai mengonsumsi makanan padat, lambung akan bekerja ekstrakeras sehingga kantuk justru tak jadi datang. Lebih baik berikan segelas susu hangat yang bisa membantu mengendurkan otot dan sarafnya sebelum anak menggosok gigi.

BIAR RELAKS MENJELANG TIDUR

Anak batita memerlukan rasa aman dalam tidurnya. Banyak cara ia lakukan sendiri untuk mencapai kondisi tersebut. Baik melalui gerakan fisik maupun nonfisik. Misalnya menggerak-gerakkan kakinya, menggesek-gesekkan tangannya ke muka, memilin rambutnya, “bersenandung”, sampai mendekap benda kesayangannya berupa boneka, bantal, atau selimutnya. Gerakan tadi dilakukannya secara berulang-ulang dan terus-menerus hingga semua anggota tubuhnya merasa relaks. Dengan kondisi relaks, maka rasa kantuk biasanya lebih mudah datang.

Kebiasaan-kebiasaan ini, ungkap Mira, tidak bisa dikatakan sebagai kebiasaan buruk. Hal tersebut dilakukannya semata-mata agar bisa terlelap. Lain halnya jika kebiasaan itu berupa menggigit atau mengisap jari yang tak cuma muncul menjelang tidur. Selain bisa merusak susunan gigi, kebiasaan ini merupakan indikasi adanya ketegangan atau kecemasan dalam diri anak. Orang tua mesti bisa mengamati mengapa si kecil berbuat demikian.

SUDAH MALAM KOK NGAJAK MAIN SIH SAYANGTega enggak tega, perilaku ini tidak bisa dibiarkan terus karena akan membuat pola tidur si batita jadi berantakan.

Beberapa orang tua sering mengeluh kalau anak batitanya kerap mengajak bermain walau sudah larut malam. “Mau enggak diladeni kasihan karena dia kan kangen dengan orang tuanya yang seharian tadi bekerja di luar rumah. Tapi kalau ditanggapi kok jadi keterusan. Aku sebenarnya senang-senang saja main dengan anak tapi capeknya itu lo. Aku kan juga butuh istirahat,” tutur Dini, seorang ibu pekerja yang memiliki jadwal tiba di rumah sekitar pukul 22.00.

Pengalaman Dini bisa jadi dialami hampir semua orang tua yang harus bekerja di luar rumah. Kondisi ini memang patut diakui merupakan suatu dilema tersendiri bagi ayah atau ibu yang bekerja. Ibarat makan buah simalakama; enggak diladeni salah, diladeni juga salah.

Jadi apa yang mesti kita perbuat? Yang pasti, menurut Mira D. Amir, Psi., tega enggak tega, perilaku si kecil itu tidak bisa dibiarkan terus. Kalau setiap larut malam anak ingin bermain dan diladeni terus, maka akan terjadi suatu kondisi yang dalam bahasa psikologinya disebut sebagai reinforcement (penguatan). “Anak akan menganggapnya sebagai suatu pola yang dapat diterima. Dia bisa berpikir, ‘Ah kalau besok aku bangun malam lagi dan minta main, pasti Papa mau nemenin. Kan asyik. Dengan kata lain anak akan terdorong untuk melakukan hal yang sama keesokan hari dan selanjutnya. Ini sebetulnya yang perlu dihindari,” ujar psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Jakarta.

Kalau kondisi tersebut dibiarkan pola tidur anak jadi berantakan. Dampak ini akan berlanjut dengan dampak-dampak buruk lainnya seperti sebuah efek domino. Umpamanya, anak jadi sulit bangun pagi yang tentu akan merepotkan saat ia harus bersekolah nanti. Kurangnya istirahat di malam hari juga bisa membuat proses belajarnya terganggu karena ia jadi kurang berkonsentrasi. Pengaruh lainnya, jam biologis si kecil kacau sebab pada jam tidur malam dia terbiasa terbangun yang dipikirnya merupakan waktu bermain. “Bila kebiasaan ini berlanjut terus maka akan sulit untuk diubah,” tandas Mira.

KENALI 4 PENYEBAB UTAMA

Saran Mira, benahi pola tidur si kecil. Namun tidak dengan cara memarahi, misalnya “Duh Malik, masak sudah jam 12 malam masih main kuda-kudaan sama Papa. Memangnya Papa enggak capek?” Keluhan ini akan percuma saja karena anak batita belum memiliki orientasi waktu yang baik; apakah saat ini siang, malam, sore atau pagi. Bila energinya masih berlebih, lalu dia ingin bermain ya dia akan bermain, tak peduli hari sudah larut malam atau belum.

Lebih bijaksana jika orang tua merunut penyebab mengapa si batita terbiasa beraktivitas hingga larut malam. Mira yakin kondisi ini tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya:

* pola tidur orang tua

Pola tidur orang tua dapat mempengaruhi pola tidur anak. Bila orang tua terbiasa tidur larut malam, anak pun akan terkondisikan seperti itu.

tindak lanjut:

Ubah jam tidur anak. Jika si kecil menolak tidur karena orang tua belum tidur atau salah satu belum pulang, maka berusahalah untuk mengondisikannya tidur di jam-jam yang wajar. Umpamanya dengan mengajak si kecil masuk kamar dan membuat kondisi dalam kamar begitu tenang. Matikan teve, lampu, musik yang berirama cepat, dan sebagainya.

* faktor bawaan

Ada anak yang semenjak bayi memang sulit tidur malam. Jika masalah ini tidak ditangani segera, ditambah dengan ketidakdisiplinan orang tua akan jam tidurnya, maka kebiasaan ini akan terus berlanjut.

tindak lanjut:

Cari tahu apakah yang menyebabkan anak sulit tidur malam. Mungkinkah karena asupan makanannya kurang. Bila orang tua tidak memiliki kepastian penyebab mengapa si kecil selalu tidur larut, tak ada salahnya orang tua memeriksakan anak ke dokter.

* belum terbentuknya jam biologis

Jam biologis anak batita belumlah teratur. Si kecil bisa saja bangun jam 5 pagi, lalu jam 10 tertidur kembali. Namun esoknya belum tentu ritmenya seperti itu. Bisa jadi ia bangun jam 5 pagi dan baru tidur jam 4 sore

tindak lanjut:

Ciptakan jam biologis si kecil dengan mengubah dan mengoreksi pola tidurnya. Misalnya dengan mengondisikan anak untuk lebih banyak beraktivitas di siang dan sore hari. Atur jam makan terakhirnya sekitar jam 6 atau jam 7 malam. Anak yang lelah secara fisik dan juga merasa kenyang akan tidur nyenyak di malam harinya.

* menuntut perhatian orang tua

Adakalanya orang tua harus bekerja hingga larut malam sehingga waktu pertemuan dengan si kecil menjadi sempit. Hal ini membuat kebutuhan si kecil akan perhatian orang tua jadi tidak terpuaskan. Ujung-ujungnya, ia sering mencari-cari perhatian misalnya ya dengan menunggu orang tuanya tiba dari kantor lalu langsung mengajak bermain. Tak peduli jam berapa pun itu.

tindak lanjut:

Lakukan refleksi diri apakah waktu kebersamaan dengan si kecil sudah tercukupi atau belum. Seringkali orang tua menyadari si kecil butuh perhatian tapi tidak berusaha menyelesaikan permasalahan. Akibatnya hal ini berlangsung berlarut-larut sampai membuat pola tidur anak tidak sesuai dengan waktu tidur orang tuanya. Kalau sudah begini, mau tak mau orang tua mesti mengatur kembali waktu luang bersama anaknya.

SIKAPI DENGAN TEPAT

Nah, jika sudah ditemukan akar permasalahannya, berikut ini ada beberapa tindakan konkret yang bisa dilakukan orang tua saat si kecil merengek mengajak bermain di malam hari:

* Hindari aktivitas yang membangkitkan semangat.

Aktivitas fisik, seperti main kuda-kudaan akan membuat anak makin bersemangat untuk melek. Lebih baik pilih aktivitas yang lebih tenang, seperti membacakan atau mendongengkan si kecil sebuah cerita. Hindari cerita yang rumit karena akan membuat otak si kecil bekerja mengolah cerita tersebut. Pilihlah bacaan ringan dan cenderung monoton. Misalnya, “Di malam hari si kelinci tidur, sang ayam tidur, si kuda tidur, dan seterusnya.” Cerita yang monoton akan membuat anak merasa bosan dan lama-lama membuatnya tertidur.

* Beri penjelasan.

Jelaskan selalu bahwa hari sudah malam dan semua orang harus tidur. “Sebenarnya, ini sudah malam lo, Dek. Waktunya untuk tidur. Coba lihat di jalanan sudah enggak ada orang lewat kan?”

Bisa juga dengan memanfaatkan sosok hewan peliharaan, “Kalau malam kucing harus bobok, ayam juga bobok. Semuanya harus bobok. Adek juga harus bobok.” Biasanya pemahaman seperti itu membuat si kecil mau berangkat tidur.

* Tanamkan sugesti.

Bila anak belum juga mau tidur dan tetap ingin bermain, maka kita bisa melakukan sugesti terhadap anak, “Tidur yuk! Adek sudah ngantuk kan?” Jika si batita sudah lancar bicara, biasanya ia akan berperilaku negativistik dengan menjawab, “Enggak mau, enggak ngantuk.” Langkah yang bisa diambil adalah dengan mencari jalan tengah. Umpamanya, “Adek boleh bermain robot, tapi sebentar saja ya. Setelah itu, bobok.” Beri rentang sekitar 10 menit, lalu ajak ia tidur kembali.

* Ciptakan suasana kondusif.

Jika penjelasan dan sugesti tak mempan dan si kecil tetap menolak tidur, orang tua bisa berkata, “Kalau Adek enggak mau bobok ya sudah. Tapi ini sudah malam dan waktunya untuk bobok. Ayah dan Bunda mau bobok duluan. Jadi lampunya dimatikan ya.” Selanjutnya padamkan lampu tapi sebelum itu pastikan tidak ada barang di kamar yang dapat mencelakakan anak. Keadaan kamar yang digelapkan merupakan suasana kondusif untuk berangkat tidur. Biasanya dengan begitu anak akhirnya akan memutuskan tidur juga.

MAMA… TAKUT , ADA HARIMAU!Jika si kecil berteriak-teriak dalam tidurnya karena bermimpi buruk, Anda tak perlu ikut-ikutan panik.

Luri kaget bukan main karena Nando, buah hatinya yang masih batita, tiba-tiba terjaga dari tidurnya dan menjerit keras. Tak urung ibu satu anak ini panik dan buru-buru mendekap erat si kecil. Ternyata Nando mengalami mimpi buruk. Dekapan sang ibu membuatnya tenang dan bisa tidur kembali.

Secara psikologis anak usia batita sudah bisa mengalami mimpi buruk. Hal ini terkait dengan pola pikirnya yang mulai berkembang. Dia mulai mampu berinteraksi lebih dalam dengan lingkungan sekitar sehingga ketika tidur, pengalaman yang didapatnya seharian bisa terbawa hingga dalam mimpi. Makanya jangan heran, jika sesekali menemui si kecil tiba-tiba menjerit dan menangis saat sedang tidur. Berdasarkan penelitian, mimpi buruk lebih sering terjadi pada anak lelaki ketimbang anak perempuan. Selanjutnya akan menghilang di usia 6 tahun.

LEBIH SERING NIGHT TERROR

Dalam psikologi perkembangan, ada dua macam mimpi buruk. Pertama adalah nightmare yaitu mimpi yang betul-betul buruk. Biasanya nightmare lebih sering dialami anak 5 tahun ke atas serta orang dewasa, dan umumnya terjadi menjelang pagi atau saat tidur akan berakhir. Karena kejadian yang dialami dalam mimpi sangat buruk, anak bisa mengingat dan mengalami ketakutan hingga berhari-hari. Akibatnya, ia bisa takut tidur atau takut tidur sendirian karena mimpi buruk itu selalu membayangi.

Kedua night terror. Nah, si batita lebih sering mengalami mimpi jenis ini. Night terror muncul saat anak baru 1 atau 2 jam tidur. Waktu mengalami mimpi, ia bisa tiba-tiba terbangun kaget, berteriak, dan tampak panik. Namun biasanya hal ini akan segera reda kala melihat ibu/ayah ada di sisinya atau datang dan menenangkannya. Setelah itu, umumnya anak bisa kembali tidur seperti tak terjadi apa-apa. Setelah bangun tidur dia pun akan lupa dengan mimpinya itu.

PENYEBAB MIMPI BURUK

Kenapa anak mengalami mimpi buruk? Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab adalah:

* Makan Kekenyangan

Bila si kecil tidur saat perutnya kekenyangan, ia tidak akan nyaman karena lambungnya masih terus bekerja keras untuk mencerna makanan. Perasaan tidak nyaman itulah yang dapat memicu mimpi buruk.

* Pengalaman Insidentil

Kejadian yang dialami anak terutama yang tidak menyenangkan bisa berujung pada mimpi buruk. Umpamanya, sebelum tidur ia menyaksikan film horor, bertengkar dengan teman, dimarahi orang tuanya, atau melihat pertengkaran antara ayah dan ibunya. Bila kejadian tersebut membekas dalam pikirannya, maka dapat berujung pada mimpi buruk.

* Terlalu Senang

Aktivitas yang membuat anak begitu bersemangat bermain seharian sambil tertawa-tawa, misalnya dapat juga memicu timbulnya mimpi yang tidak menyenangkan saat tidur malam.

* Kejadian Traumatis

Kejadian traumatis bisa sangat membekas di hati anak. Umpamanya, anak yang melihat ibu/ayahnya mengalami kecelakaan atau meninggal dunia. Atau ia sendiri yang mengalami kecelakaan. Kejadian-kejadian tersebut dapat tersimpan lama di dalam otaknya sehingga ia sering dihantui oleh mimpi buruk. Kejadian traumatis yang cukup berat malah bisa mengakibatkan kondisi psikologis anak terganggu. Akibatnya, ia tidak hanya dihantui pada saat tidur tapi juga dalam keadaan terjaga.

* Fantasi Anak

Fantasi anak usia ini sangat besar. Terkadang sesuatu yang bagi orang dewasa biasa-biasa saja, difantasikan menjadi sesuatu yang menakutkan. Misalnya, adegan di film-film kartun yang menggambarkan perilaku-perilaku kasarseperti binatang yang digebuk dengan palu besar hingga tubuhnya rusak lalu bisa kembali seperti semula dalam waktu singkat. Bila anak berfantasi, adegan yang lucu bagi sebagian orang itu, bisa berubah menjadi adegan menakutkan dan terbawa-bawa ke alam mimpi anak. Hal ini terjadi karena anak batita belum mampu membedakan kejadian khayal dan kejadian sebenarnya.

LIHAT FREKUENSI

Yang perlu diketahui, hampir 30 persen anak di bawah 4 tahun mengalami mimpi buruk. Jadi, dalam batas-batas tertentu, gangguan ini masih terbilang wajar dan tidak perlu terlalu dicemaskan. Orang tua hanya perlu menjelaskan bahwa yang dialami anak hanyalah bunga tidur, bukan kenyataan. Ini sudah cukup membuatnya tenang.

Tapi jika sampai terlalu sering, tentu perlu kita cermati. Pasalnya, keseringan mimpi buruk tentu tak baik. Si kecil jadi tak cukup tidur dan aktivitasnya pun bisa terganggu. Belum lagi dampak-dampak lainnya, seperti ia jadi sulit makan, sering cemas, takut tidur sendirian, dan lainnya.

Nah, jika si kecil kedapatan sering mengalami mimpi buruk, coba ikuti langkah-langkah berikut ini:

* Lakukan identifikasi, kenapa mimpi itu bisa terjadi. Caranya, dengan menelusuri/mengingat-ingat aktivitas apa saja yang dilakukan si kecil sepanjang hari. Apakah ia terlalu banyak makan, terlalu banyak tertawa saat bermain, atau habis menyaksikan film horor, dan lain sebagainya.

* Kalau sudah ketemu penyebabnya, kita perlu mengondisikan agar ia merasa aman dan nyaman menjelang tidur. Misalnya, kalau penyebab mimpi buruknya karena terlalu kenyang, kondisi yang perlu dilakukan, ya, jangan memberinya makan dua jam sebelum ia naik ranjang. Atau kalau ia terlalu excited, selalu ingatkan anak agar tidak terlalu capek atau terlalu bersemangat selama bermain. Begitu juga kalau misalnya ia bermimpi buruk gara-gara nonton si tikus Jerry yang dikejar-kejar oleh Tom, si kucing yang nakal. Mau tak mau, kita harus jelaskan bahwa itu hanya adegan film, bukan kenyataan.

* Nah, bila penyebab mimpi buruk itu adalah kejadian traumatis, tentu solusinya tak semudah yang lain. Salah satunya, kita perlu melakukan pendampingan saat ia akan berangkat tidur. Tuturkan cerita yang indah-indah sehingga ketakutan anak teralihkan. Jangan menceritakan hal yang seram-seram karena akan membuat anak semakin takut. Namun bila tidak berhasildalam artian si kecil tetap mengalami mimpi buruk atau malah selalu ingin ditemani saat tidurtak ada salahnya kita berkonsultasi pada ahli yang lebih berpengalaman, seperti psikolog.

JIKA SI KECIL BERMIMPI

Ada beberapa hal yang perlu dicermati orang tua saat si kecil tiba-tiba menjerit dan menangis karena mimpi buruk;

* Tak perlu ikut-ikutan panik karena hal ini akan membuatnya semakin ketakutan. Bersikaplah tenang sambil menghibur anak dengan perkataan yang menyejukkan. Bila perlu dekap anak sampai ia tenang lagi. Minta ia untuk tidur kembali sambil menegaskan bahwa tak ada yang perlu ditakuti karena kita ada di sampingnya. Reaksi panik hanya akan membuat anak merasa mendapat penguatan bahwa mimpi buruk adalah sesuatu yang harus ditakuti. Meski tampak belum mengerti, sebenarnya anak bisa merasakannya, “Aduh, Mama juga takut dengan mimpi yang aku alami!”

* Bila masih tampak ketakutan, minta ia untuk menceritakan kejadian dalam mimpinya. Bercerita bisa dijadikan katarsis atau pelepas ketegangan anak. Jadi, biarkan dia bercerita walau dengan terbata-bata sampai ia merasa plong.

* Jelaskan bahwa itu hanya mimpi bukan kenyataan. “Buktinya setelah Adek bangun harimaunya enggak ada kan?” misal. Penjelasan ini akan memberikan pemahaman pada anak kalau mimpi dengan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.

* Tak perlu mengungkit-ungkit. Bila anak sudah lupa dengan mimpi buruknyaumpamanya, dia sudah bisa beraktivitas kembali dengan baiktak perlu mengungkit-ungkit kembali soal mimpinya itu. Hal itu hanya akan membangkitkan pengalaman buruknya yang tidak mustahil akan memunculkan rasa takut.

* Jangan menambah akumulasi ketakutan anak. Misalnya, anak bermimpi bertemu harimau yang akan menerkam. Jangan malah menambahkan kalau harimau memang hewan buas yang siap menerkam siapa pun yang ada di depannya. Hal ini hanya akan membuatnya semakin takut. Imbasnya dia mungkin akan semakin sulit melupakan pengalaman buruknya.

AGAR TIDUR ANAK NYAMAN DAN NYENYAK

Pola tidur yang baik akan membuat anak bisa lebih mengembangkan kemampuan dirinya karena dia sudah memenuhi kebutuhan istirahatnya dengan cukup. Anak bisa lebih kreatif dalam bermain, lebih bisa bersosialisasi, tidak cepat rewel, tidak mudah sakit, dan sebagainya. Berikut beberapa tip yang bisa membantu kita mengembangkan pola tidur anak:

* Hindari memberi makan terlalu banyak sebelum anak berangkat tidur. Makan yang terlalu banyak akan membuat anak kekenyangan dan sulit tidur nyenyak.

* Melakukan kegiatan menyenangkan yang sifatnya tenang sebelum tidur sangat baik dilakukan. Misalnya membaca buku cerita, berbincang-bincang, menyanyikan lagu Nina Bobo, bersalawat, dan sebagainya, bisa membuat anak merasa nyaman sehingga dia dapat tidur dengan nyenyak.

* Aturlah penyinaran di ruang tidur. Bisa ditemaramkan atau digelapkan dengan sinar-sinar yang menembus celah jendela. Sangat baik bila kita memosisikan tempat tidur di jendela sebelah timur sehingga bisa membantu otak anak terbiasa dengan siklus kapan waktu tidur dan kapan waktu bangun.

* Desainlah ruang tidur anak dengan ornamen seperlunya. Jangan terlalu banyak mainan atau aksesoris karena akan membuatnya jadi sulit tidur karena terangsang untuk bermain. Pilih warna dinding yang cerah atau lembut. Sebaliknya jangan pilih warna gelap karena akan membuat anak merasa takut. Bila ingin memasang gambar pilihlah gambar yang indah dan menyejukkan seperti pemandangan atau tokoh kartun kesukaannya. Jangan pasang gambar yang bisa menimbulkan imajinasi menakutkan.

* Buatlah rutinitas waktu tidur sehingga anak terbiasa dengan keteraturan waktu tidur. Selain mendidik disiplin anak suka dengan keajegan waktu yang kita buat untuknya.

Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA

Konsultan Ahli:

Rosmayanti, S.Psi.,

dari Cikal Kemang Jakarta Selatan

4 LANGKAH MENIDURKAN ANAK AKTIF

Salah satunya dengan menciptakan aktivitas tidur yang menyenangkan.

“Andi, tidur dong, Sayang. Masak enggak capek sih lompat-lompatan terus!” Sudah lebih dari dua jam, Siska meminta anaknya untuk tidur siang. Sama sekali tidak sukses. Andi memang sulit sekali jika diminta tidur. Ketimbang memejamkan mata di ranjang, ia lebih memilih berlompat-lompatan, tertawa-tawa, atau mengajak Siska bermain gulat-gulatan. Keadaan ini juga berlaku saat tidur malam. Siska sampai kehilangan akal.

Menurut Neneng Tati Sumiati, Psi., Andi adalah salah satu contoh anak aktif. Yang perlu disadari, aktif bukan berarti hiperaktif. Si aktif adalah anak normal karena perilakunya masih bisa diarahkan dan dapat dikontrol. Hanya saja secara psikomotorik, ia lebih aktif ketimbang anak-anak pada umumnya; lebih sering bergerak; berlari, melompat atau merangkak. Ia pun aktif dalam artian kreatif; sering bertanya, meminta perhatian, dan sebagainya. “Se-belum dia berhasil menyelesaikan pasel misalnya, anak aktif umumnya tidak akan menyerah. Hal ini terjadi karena anak aktif punya energi lebih banyak dan lebih tahan terhadap tantangan yang dihadapi,” ujar psikolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nah, bedanya anak aktif dengan anak hiperaktif adalah anak aktif masih memiliki kemampuan untuk memberikan perhatian, fokus terhadap sesuatu yang diinginkan, punya tujuan saat melakukan sesuatu, dan dapat berkomunikasi dengan baik. “Bila anak aktif diberikan arahan, dia bisa melakukan segala sesuatu dengan baik,” kata Neneng. Berbeda dengan anak hiperaktif, perilakunya cenderung tanpa arah karena tidak memiliki tujuan. Sikapnya pun ditunjuk-kan dengan tindakan destruktif, tidak bisa fokus dan mudah sekali beralih, dan sebagainya. “Hiperaktif termasuk anak dengan kebutuhan khusus dan perlu penanganan serius.”

AGAR ANAK MAU TIDUR

Jadi, sekali lagi, anak aktif itu normal. Malah keaktifan mereka cenderung membawa manfaat. Misalnya, si aktif jadi tahu lebih banyak tentang berbagai hal karena lebih sering bereksplorasi ketimbang anak-anak lainnya. Berkat gerakan-gerakannya yang hampir tiada henti, juga membuat kemampuan motorik anak aktif lebih baik. “Menurut saya, lebih bagus anak banyak gerak karena dia akan mempelajari sesuatu lebih banyak. Sedangkan anak yang lebih sering diam, selain motoriknya kurang terlatih, juga banyak hal yang tidak dapat diketahui anak. Kepasifannya malah bisa mengganggu kreativitas anak dan inisiatifnya kelak,” tandas Neneng.

Nah kalau masalahnya si aktif sulit diajak diam apalagi kalau diminta harus tidur, itu disebabkan mobilitas si aktif yang lebih tinggi ketimbang anak-anak lain. Keinginan si aktif untuk selalu beraktivitas inilah yang akhirnya membuatnya sulit untuk diminta tidur, terutama tidur siang. “Setiap anak memang memiliki kebutuhan tidur yang beragam, mungkin kebutuhan tidur anak aktif lebih sedikit sehingga kita sering menemukan mereka sulit untuk diajak tidur,” ungkap Neneng.

Walau begitu, ia menandaskan anak batita harus memiliki istirahat yang cukup, terutama bagi mereka yang sudah bangun pagi-pagi sekali. “Istirahat terbaik kan tidur. Jadi batita memang sebaiknya tidur di siang hari.”

Istirahat yang kurang akan berimbas pada kondisi fisik yang akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatannya secara umum. Apalagi, anak aktif sering tidak bisa mengontrol aktivitasnya sehingga mungkin saja dia sebenarnya sangat lelah namun tetap memaksakan diri untuk bermain.

Tetapi perlu diingat, jangan sekali-kali anak dipaksa untuk tidur dengan berbagai ancaman. Meskipun anak akhirnya mau melakukannya namun hal ini bukan karena kesadarannya melainkan keterpaksaan. Berikut beberapa hal yang lebih disarankan Neneng untuk membuat si kecil bersedia tidur:

1. Bikin jadwal kegiatan

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan membuat jadwal kegiatan anak dalam satu hari. Jadwal ini bisa dijadikan sebagai patokan kapan anak harus bangun, mandi, makan, tidur siang, hingga rutinitas malam hari. Awalnya bisa jadi jadwal tersebut sulit diterapkan. Namun setidaknya dengan jadwal yang sudah tersusun, si kecil jadi terbiasa melakukan aktivitas teratur. Jadi cobalah mematuhi jadwal agar ia terbiasa. Bila anak sudah bisa menyesuaikan diri, mudah bagi kita untuk memintanya tidur. Sebaliknya, tanpa jadwal anak akan terbiasa bebas melakukan apa saja dan kapan saja. “Mungkin saja nantinya bukan orang tua yang mengendalikan anak malah anak yang mengendalikan rutinitas hariannya, juga mengendalikan orang tuanya.”

Jadi mumpung si batita masih mudah untuk diarahkan, buatlah jadwal kesehariannya sedini mungkin. Namun perlu diingat, orang tua perlu menyisipkan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di dalam rutinitas si kecil agar ia tidak merasa tertekan. Jadwal pun harus fleksibel dan tidak kaku. Misalnya, saat ada saudara berkunjung, si kecil bisa saja tak perlu mengikuti jadwal tidur siangnya agar dapat bermain dengan saudaranya.

2. Rancanglah aktivitas tidur yang menyenangkan

Umpamanya dengan meletakkan mainan favoritnya atau barang-barang yang disukai anak, seperti bantal, guling dan lainnya di atas tempat tidur. Cara lain, coba dongengkan cerita yang disukai anak. Pilihkan cerita yang bersifat mendidik agar ia bisa memetik hal positif dari dongeng yang diberikan. Mengatur tempo suara pun sangat baik dilakukan. Misalnya, di awal cerita suara kita terdengar cukup keras. Seiring dengan berjalannya dongeng, suara perlahan dikecilkan. Ketika anak terlihat sudah mau memejamkan mata. lirihkan suara dan buat seakan-akan suara menghilang secara perlahan.

Bila memang diperlukan atau anak memintanya, buatlah semacam “upacara” sebelum tidur. Misalnya, setiap mau tidur, ia mesti dibacakan cerita, mengucapkan selamat tidur bagi para bonekanya dan lainnya. Intinya, apa pun ritual yang diinginkan, cobalah dipenuhi, termasuk saat ia ingin melakukan permainan seperti gulat, smack down, dan sejenisnya sebelum tidur. “Namun jangan sampai keterusan hingga anak lupa tidur tetapi batasi dan minta anak untuk segera tidur,” ujar Neneng.

3. Ciptakan suasana nyaman

Kamar yang nyaman dan menyenangkan bisa diciptakan dengan berbagai cara. Salah satunya menghias kamar dengan gambar-gambar dan mainan yang disukai. Suasana yang menye-nangkan akan mendorong anak untuk betah berada di dalam kamar. Namun, hindari hiasan-hiasan yang terlalu ramai karena akan membuatnya tergerak untuk memainkan. “Suasana tenang, lampu redup terkadang sangat diperlukan untuk membuat anak lebih mudah tidur,” kata Neneng.

Tak hanya itu, perilaku orang tua terkadang dibutuhkan agar si kecil cepat terlelap. Seperti, berpura-pura memejamkan mata, tidak berbicara, tidak banyak bergerak, dan sebagainya. Dengan melihat orang tuanya “sudah tidur” bisa memicu anak untuk melakukan hal serupa. Jadi jangan malah membuat konsentrasi anak untuk tidur buyar, dengan menghidupkan teve misalnya. “Di teve kan banyak sekali hal menarik sehingga anak tertarik untuk melihatnya. Bila demikian, sulit baginya untuk memejamkan mata.”

4. Alunkan musik penenang

Sebagai alternatif agar si kecil mau memejamkan mata, coba iringi tidurnya dengan suara-suara syahdu. Seperti dengan memperdengarkan alunan musik klasik, atau rekaman-rekaman suara yang mene-nangkan, seperti air terjun, ombak, dan lainnya. Dari hasil penelitian, suara-suara yang menenangkan akan membuat anak merasa lebih nyaman. Dalam kondisi ini anak akan lebih mudah untuk diajak tidur.

JIKA TIDAK BERHASIL

Namun perlu disadari juga, mungkin saja segala daya upaya orang tua untuk membuat si aktif tidur siang, tidak berhasil. Menurut Neneng, tak perlu ter-lalu mengkhawatirkan hal ini. Karena sebenarnya dengan hanya beraktivitas tenang di atas tempat tidur; dengan mendengar-kan dongeng atau memainkan bonekanya ini sama saja sudah membuatnya beristirahat. “Tidur siang memang sangat penting diterapkan pada anak. Namun bila pada kenyataannya orang tua malah mengalami kesulitan saat mengajak anak tidur di malam hari, boleh saja kita mengorbankan waktu tidur siangnya.”

Nah, di malam harinya, ketika tenaganya terkuras, anak akan lebih mudah untuk tidur.

KOK, SERING BANGUN TENGAH MALAM?

Arahkan si kecil untuk kembali tidur agar pada dirinya tertanam konsep waktu dan keteraturan.

Anak batita Anda termasuk yang seperti ini: bangun tengah malam minta makan atau minum susu, bahkan tak jarang mengajak main? Daripada tangisnya pecah, terpaksa deh dengan mata mengantuk Anda penuhi keinginannya. Tak jarang sampai harus begadang lantaran si kecil minta ditemani bermain sepanjang malam.

Sebenarnya, setiap orang tak terkecuali anak kecil, bisa saja terbangun di tengah malam, semisal hendak buang air kecil atau lantaran bermimpi buruk. Yang jadi masalah, anak terbangun dan minta sesuatu yang tidak sewajarnya di tengah malam, seperti makan dan bermain. Tambah bermasalah lagi, si kecil tak bisa tidur kembali dan minta kita menemaninya bermain. Padahal, malam hari adalah kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat setelah beraktivitas sepanjang hari, selain melakukan detoksifikasi untuk memperbaiki sistem dan kerusakan lain yang ada pada tubuh.

JANGAN IKUTI KEMAUANNYA

Namun begitu, terbangun tengah malam pasti ada penyebabnya. Mungkin saja, seperti kata Maria Herlina Limyati, Psi., anak merasa tak nyaman/sakit, bermimpi buruk, atau kelamaan tidur siang. “Anak usia ini punya kebutuhan tidur sekitar 12 jam per hari. Jadi kalau tidur siangnya kelewat lama, lebih dari 5 jam misalnya, jangan heran jika di tengah malam buta saat kita nyenyak tidur, anak justru tak lagi membutuhkan tidur.”

Namun, lanjut psikolog dari Universitas Krida Wacana (UKRIDA) ini, kebiasaan bangun tengah malam, selain untuk pergi ke kamar mandi dan minum air putih, sebaiknya tak dibiarkan berlanjut. Mengikuti keinginan anak, menurut Maria, bukanlah ide yang baik untuk mengatasi masalah ini. “Orang tua hendaknya bersikap tegas dan konsisten dalam mengajari anak tentang apa yang boleh dilakukan pada siang hari dan apa yang boleh dilakukan pada malam hari. Siang hari adalah waktu untuk bermain dan lain-lainnya, sedangkan malam hari adalah waktu untuk istirahat atau tidur.”

Lagi pula, menuruti keinginan makan atau minum susu di malam hari, perlahan membuat gigi anak jadi rusak, bukan? Karena umumnya, anak malas untuk menggosok gigi lagi. Selain itu, pengisian cairan di malam hari dapat membuat anak lebih banyak terbangun di tengah malam karena mengompol dan celananya basah.

Begitu pula dengan ajakan main, kalau ditanggapi sama saja dengan tak mengajarkan keteraturan dalam hidup, juga tak membuat anak lebih mengerti konsep istirahat malam hari. Berarti, jika kita selalu mengikuti kemauannya pada saat bangun malam, anak tidak akan paham mengenai konsep aturan dan waktu. Karena itulah, tandas Maria, “Apa pun alasan anak saat terbangun tengah malam, ia harus tetap berada di tempat tidur, kecuali untuk buang air kecil atau besar.” Akan tetapi caranya bukan dengan memarahi si anak, melainkan diarahkan agar ia mau kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidurnya. Lakukan hal ini secara konsisten sehingga anak batita benar-benar memahami bahwa malam hari adalah waktu untuk tidur, bukan bermain atau makan dan minum susu.

ATASI BERDASARKAN PENYEBAB

Menurut Maria, bila anak terbangun tengah malam, yang pertama harus dilakukan orang tua adalah mencari penyebabnya, untuk kemudian mengatasinya.

* HAUS ATAU INGIN KE KAMAR MANDI

Ajari anak, setelah minum air putih atau ke kamar mandi, harus kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidurnya. Beri pengertian bahwa malam hari adalah waktu untuk tidur, supaya esok hari tenaganya sudah pulih untuk kembali bermain.

* MIMPI BURUK

Tenangkan anak, peluk, beri minum air putih. Cari tahu apa yang menyebabkan anak mengalami mimpi buruk. Kemungkinan anak menonton acara teve yang menyeramkan, atau mungkin juga mengalami perlakuan buruk/peristiwa traumatis.

Bila karena menonton acara teve yang menyeramkan:

* Hindari anak dari tontonan yang menyebabkannya berimajinasi berlebihan. Lakukan seleksi tayangan yang akan ditonton.

* Dampingi anak selalu saat menonton teve, beri pengertian bahwa apa yang dilihatnya di teve belum tentu benar terjadi. Bagaimanapun, kemampuan berpikir anak usia batita masih terbatas pada hal-hal yang konkret atau belum dapat memahami hal-hal yang abstrak.

* Alihkan anak untuk melakukan kegiatan lain yang bermanfaat, seperti bermain di taman, membacakan cerita, atau kegiatan lain yang memberikan stimulasi kepada anak tetapi tidak memaksa anak untuk belajar.

Bila karena anak mengalami peristiwa traumatis:

Tanyakan baik-baik apa yang membuat anak gelisah, tapi bukan dengan nada menghakimi atau seperti menginterogasi. Anak sangat mungkin merasa bersalah sehingga dia malah tak mau bercerita dengan jujur. Intinya, jangan menempatkan anak dalam posisi bersalah.

* CARI PERHATIAN ORANG TUA

Anak-anak yang terbangun tengah malam dan membangunkan orang tuanya untuk diajak main biasanya bertujuan mencari perhatian orang tua. Tanggapi perilaku ini dengan tenang dan ekspresi datar, jangan memperlihatkan rasa kesal, jangan pula menyambut ajakan mainnya. Kemudian bimbing anak untuk kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidurnya kembali.

Namun penting disadari, ajakan anak bermain di tengah malam sebenarnya merupakan peringatan bagi orang tua. Bahwa ia merasa waktunya untuk bermain dengan ayah atau ibu masih kurang, maka dia berusaha mendapatkannya sebisa yang dia lakukan. Salah satunya, ya dengan membangunkan orang tua di tengah malam. Karena itu, orang tua sebaiknya mengevaluasi diri, apakah sudah memberikan cukup perhatian kepada anaknya. “Sudahkah aku berbincang-bincang dengan anak hari ini?”, “Sudahkah aku bermain dengan anak hari ini?”, “Apakah aku sudah meneleponnya hari ini?”, dan seterusnya.

* MINTA MAKAN/MINUM SUSU

Mungkin saja anak lapar atau haus. Tetapi bila orang tua yakin bahwa sebelum tidur anak sudah mendapat cukup makan dan dia minta makan atau minum untuk tujuan yang lain (misalnya mendapatkan perhatian dari orang tua), beri tahu anak bahwa malam hari bukanlah waktu untuk makan.

AGAR ANAK TIDAK TERBANGUN

* Latih anak untuk memiliki rutinitas makan dan tidur yang teratur.

* Bila anak tidur telalu lama pada siang hari, sebaiknya bangunkan agar malam harinya memiliki waktu tidur yang lebih banyak. Tidur siang cukup sekitar 1 jam, karena waktu tidur yang sebenarnya adalah pada malam hari.

* Biasakan anak untuk tidak melakukan aktivitas yang berlebihan sebelum tidur, misalnya berlari-lari, gulat-gulatan, loncat-loncat, atau kegiatan heboh lainnya. Menjelang waktu tidur, pilih aktivitas yang tenang, seperti membacakan dongeng, mengobrol, dan mendengarkan musik.

* Sebelum anak tidur, pastikan ia sudah melakukan dan mendapatkan apa yang diperlukannya; sudah ke kamar mandi untuk pipis dan menggosok gigi, ada gelas/botol air untuk minum yang diletakkan dalam jangkauan anak sehingga tak perlu ke luar kamar.

* Buat aturan dengan anak bahwa ia boleh bangun tengah malam jika ingin ke kamar mandi. Bila perlu sediakan pispot di kamar.

PERHATIKAN SUHU RUANGAN

Suhu ruangan juga memberi kontribusi supaya anak tidak terbangun tengah malam. Karena itu, atur suhu ruangan sebaik mungkin, idealnya 230C saat tidur. Jika menggunakan AC, sebaiknya gunakan pula kipas exhaust untuk sirkulasi udara. Hembusan AC juga harus dipantulkan, sehingga tidak secara langsung mengenai tubuh anak.

SEBERKAS CAHAYA MENJAGANYA TERLELAP

Selagi si kecil terlelap ternyata cahaya terang benderang sama tak baiknya dengan keadaan gelap gulita. Lalu bagaimana idealnya?

“Mamaaa!” jerit Andi memecah keheningan malam. Sambil meraba-raba, sang mama yang terbangun oleh jeritan anaknya berusaha mencari saklar lampu. “Sebentar Sayang. Aduh, mana sih lampunya,” keluhnya sambil berusaha menenangkan putranya yang masih batita. Seperti anak seusianya boleh jadi Andi saat itu sedang mengalami mimpi buruk. Saat terjaga, ketakutannya makin mencekam manakala mendapati keadaan sekelilingnya gelap gulita.

Lain Andi, lain pula Sita. Gadis kecil ini sulit sekali tidur meskipun orangtuanya sudah berusaha tidak memedulikan ocehannya kalau sudah di atas ranjang. “Mama, aku mau naik kuda dong. Tapi kudanya yang warna putih ya,” rengeknya selagi mata sang mama sudah setengah terpejam. Setiap malam Sita selalu mengganggu orangtuanya dengan rengekan yang “mengada-ada”. Agaknya rasa kantuk sulit sekali menghinggapinya bila suasana kamarnya terang-benderang seperti itu.

Kondisi kedua batita yang masih tidur sekamar dengan orangtuanya itu sebenarnya tak jauh berbeda. Bila ditelusuri, lampu tidur yang kurang ideallah yang membuat kenyamanan tidur keduanya tak maksimal. Pada kasus Andi, orangtuanya terbiasa tidur tanpa cahaya sama sekali alias gelap gulita. Sedang pada kasus Sita, orangtuanya justru terbiasa tidur di dalam kamar yang terang benderang. Akibatnya, gadis cilik ini sulit sekali memejamkan mata. Nah, gara-gara tak bisa memicingkan mata itulah ia jadi “rajin” mengganggu orangtuanya yang sudah terkantuk-kantuk.

Sebenarnya, bagaimana lampu kamar tidur yang ideal untuk batita? Apa saja kelebihan dan kekurangan kondisi gelap gulita atau sebaliknya terang benderang?

JIKA TERANG BENDERANG

Banyak orang dewasa yang merasa tidak nyaman tidur dalam gelap atau bahkan dengan cahaya remang-remang sekalipun. Akibatnya, lampu tak pernah padam kala tidur. Sebelum ada si kecil, mungkin tak masalah. Tapi dengan kehadiran batita, yang biasanya masih tidur dengan orangtua, apa yang akan terjadi?

· Sensitif terhadap rangsang

Tidur dengan cahaya terang benderang akan menyulitkan batita. Jangankan tidur nyenyak, bahkan proses untuk tertidur pun akan terasa sulit baginya. Ini lantaran belum tercapainya self-control yang optimal. Batita masih sulit mengendalikan diri dari faktor luar. Apalagi di usia ini mereka justru sangat tertarik pada cahaya. Adanya rangsang berupa cahaya atau suara akan membuatnya “on” terus meski waktu tidurnya telah lama terlewat.

· Tidak pulas

Seperti diketahui ada beberapa tahapan sebelum seseorang tertidur pulas. Dengan kondisi kamar yang terang benderang, sulit bagi batita untuk segera masuk ke fase tidur pulas. Setiap kali terjaga, ia akan merasa silau. Akibatnya, si batita tak pernah benar-benar bisa tidur pulas.

· Panas

Cahaya lampu akan membuat kamar terasa panas, terutama untuk kamar yang tidak ber-AC. Anak akan terus merasa kegerahan sepanjang malam, sehingga kualitas tidurnya jadi kurang.

· Uring-uringan

Kurang berkualitasnya tidur bisa mengakibatkan anak merasa “tidak enak badan”. Akibatnya, sepanjang hari sangat mungkin si batita akan uring-uringan. Bila hal semacam ini berlangsung setiap hari tentu akan menjadi masalah baru bagi seluruh penghuni rumah.

JIKA GELAP GULITA

Sebaliknya, ada juga orangtua yang terbiasa tidur dalam keadaan gelap gulita. Bagi orang dewasa, kondisi ini mungkin nyaman-nyaman saja. Ia bisa tidur lebih pulas, tidak silau dan tidak pula “kepanasan” terkena sorot/cahaya lampu. Namun bagi batita, keadaan ini ternyata membawa rangkaian efek, di antaranya:

· Masalah dengan pernapasan

Bila dibiarkan tidur dalam ruang gelap gulita, anak-anak usia setahun lebih sedikit ternyata rentan terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pernapasan. Selain gangguan SIDS (Sudden Infant Death Syndrome), bukan tak mungkin dalam tidurnya ia “terjerat” selimut atau tali gulingnya yang mengakibatkannya sulit bernapas. Bila tidak segera ketahuan dan mendapat pertolongan, bisa berakibat fatal.

· Mimpi buruk

Seperti sudah disinggung di atas, di usia ini batita masih sering mengalami mimpi buruk. Bila ia terbangun dalam keadaan gelap-gulita, kecemasannya bisa berlipat. Selain tidak bisa “melihat” wajah orangtuanya segera, ia pun belum bisa membedakan mana realita dan mana mimpi. Dalam benaknya, apa yang dilihatnya dalam mimpi akan dipersepsikannya sebagai kenyataan di dalam kamar yang gelap gulita itu.

· Merasa tidak aman

Bila kondisi ini dibiarkan terus-menerus, anak akan tumbuh menjadi pribadi pencemas, penakut, sering gelisah dan sebagainya. Kasihan kan?

SEBERKAS CAHAYA

Terlalu terang atau sebaliknya gelap gulita jelas tidak ideal. Lalu bagaimana sebaiknya? Kalaupun bersikeras menginginkan kamar dalam keadaan gelap, usahakan tetap ada seberkas cahaya. Cahaya ini bisa bersumber dari lampu tidur atau pintu kamar yang dibiarkan sedikit terbuka. Dengan sedikit pencahayaan seperti ini, anak tetap bisa tidur dengan nyaman. Kalaupun mimpi buruk itu datang, anak masih bisa dengan segera melihat keberadaan orangtuanya, sehingga ia bisa membedakan mana mimpi dan mana realita.

Meskipun anak telah terbiasa tidur dalam keadaan terang benderang atau sebaliknya gelap gulita, orangtua tetap masih bisa mengarahkannya ke kondisi semestinya dengan mencoba saran berikut:

* Mulailah dengan menggunakan lampu tidur atau tak memasang lampu namun membiarkan seberkas cahaya masuk ke kamar. Bila anak merasa ada yang aneh dengan kebiasaan baru ini, orangtua bisa membuatnya lebih nyaman. Caranya, dengan mengajaknya ngobrol, bersenandung atau mendongeng (bukan membacakan buku cerita) sampai ia terlelap.

* Orangtua juga bisa menciptakan rasa nyaman dengan memeluk dan mengelus-elusnya tanpa perlu berkata-kata.

* Sebagai selingan, orangtua juga bisa mengajak anak bermain bayangan. Tak perlu alat khusus, cukup dengan jari-jari tangan, orangtua bisa membuat bentuk kelinci, kupu-kupu, kijang dan sebagainya. Namun usahakan anak jangan sampai terlalu bersemangat yang hanya akan membuatnya jadi semakin sulit tidur.

TIP UNTUK ORANGTUA

Beberapa hal sebaiknya diperhatikan orangtua sehubungan dengan pencahayaan di kamar tidur batita:

* Mudah bagi orangtua untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang paling nyaman bagi anak, namun tidak sebaliknya. Oleh karenanya orangtualah yang sebaiknya menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.

* Jika memungkinkan, gunakan lampu yang dirancang khusus untuk tidur. Lampu ini akan menyala jika keadaan gelap dan mati jika sekelilingnya terang. Lampu seperti ini mudah dijumpai di toko lampu/peralatan elektronik.

* Tidak menggunakan teve sebagai sumber cahaya karena anak akan terbiasa dengan rangsangan visual yang akan membuatnya sulit tidur karena melihat gambar-gambar yang bergerak.

* Tak perlu panik, apalagi sampai membentak ketika si batita terbangun dari mimpi buruknya. Meski boleh jadi saat itu sebagai orangtua Anda sangat terkejut oleh teriakan/tangisannya.

* Sediakan minum secukupnya di dalam kamar. Ini akan bermanfaat untuk membantu menenangkannya bila anak tegang/menangis akibat mimpi buruk yang mengganggunya.

Marfuah Panji Astuti

Narasumber:

Vera Itabiliana, Psi.,

dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma.

AGAR SI KECIL TAK LAGI TIDUR LARUT MALAM

Kalau perlu, abaikan ajakan bermainnya di waktu tidur malam tiba.

Umumnya, anak usia batita sudah pergi tidur malam sekitar pukul 8 dan bangunnya sekitar pukul 6 atau mungkin sedikit lebih siang. Sebetulnya, anak yang dibiasakan dengan pola tidur teratur, akan mudah tidur malam. Dengan sendirinya pada jam-jam tersebut karena irama jam biologisnya akan mengikuti.Tetapi memang, pada usia batita sering ditemui anak yang tidur larut malam. Namun, apa pun penyebabnya, anak seperti ini berarti mengalami gangguan tidur. Tarafnya masih tergolong ringan kecuali bila frekuensi tidur larut malamnya sering sekali.

Kebiasaan tidur larut malam perlu dikoreksi karena akan berdampak tak baik buat kesehatan anak. Antara lain, membuatnya lelah secara fisik karena kurang tidur. Ketika bangun pagi, anak biasanya masih mengantuk atau malah susah bangun. Secara psikologis, ia jadi malas melakukan sesuatu, kurang bersemangat, mungkin mudah rewel, dan lekas marah.

Orangtua pun terkena dampaknya. Waktu untuk beristirahat yang dibutuhkan setelah bekerja keras sepanjang hari, otomatis akan terganggu dengan pola tidur si batita yang kacau. Waktu tidur berkurang karena harus menemani si kecil yang tidurnya larut. Dampaknya akan memengaruhi kondisi emosi juga; rasa penat membuat orangtua tidak sabar, gampang marah, dan anak juga yang akan menjadi sasaran kemarahan.

Jika gangguan tidur ini dibiarkan saja, dampaknya bisa terus berlanjut di usia berikutnya. Anak jadi sulit bangun pagi. Ini akan jadi kendala bila anak harus masuk sekolah. Ia juga mungkin kurang bersemangat dan berkonsentrasi dalam menerima kegiatan yang diberikan di sekolah.

Sementara anak yang sudah terbiasa dengan pola tidur teratur, tentu punya waktu tidur yang cukup. Dampaknya juga baik bagi kesehatan fisik dan jiwanya. Tubuh anak akan terasa fit, kondisi emosinya pun baik, tidak gampang rewel dan marah karena anak merasa nyaman dengan dirinya. Di kelompok bermain atau taman kanak-kanak dan selanjutnya, anak dapat dengan mudah menerima kegiatan yang diberikan, termasuk mudah bergaul dengan teman.

Jika gangguan tidur ini cukup serius, mintalah bantuan pada ahli. Barangkali anak mengalami gangguan neurologis ataukah ada masalah dengan psikisnya.

PENYEBAB GANGGUAN TIDUR LARUT MALAM

* Awalnya karena orangtua membiarkan

Anak-anak mungkin pernah sesekali tidur larut malam. Jika orangtua kemudian tidak membantu mengatasi atau malah membiarkannya, lama-kelamaan pola tidur anak berubah. Jam biologisnya pun akan mengikuti pola tidur larut malamnya.

* Anak sedang mengembangkan otonominya

Anak merasa punya power untuk mengatur dirinya. Ditambah pula dengan sikap negativistiknya yang sedang berkembang di usia ini. Ketika orangtua menyuruhnya tidur, si batita mencoba bertahan dan menolak tak mau segera tidur. Bentuk penolakan ini terkait dengan tahap perkembangannya tadi. Apa yang disuruh orangtuanya tidak ingin dia lakukan.

* Ada kekhawatiran berpisah (separation anxiety) dengan orangtua

Bagi anak, mungkin saja tidur bukanlah aktivitas yang menyenangkan. Di usia ini, anak juga memiliki ketakutan akan bermacam-macam hal. Saat tidur malam, ada kecemasan kalau-kalau ditinggal orangtuanya. Anak merasa takut sendirian, takut jika terjadi sesuatu pada orangtua apabila tidak bersamanya.

* Ada tekanan emosi yang tak terungkap

Misal, si batita punya adik bayi dan ia merasa perhatian orangtuanya terbagi. Tekanan secara emosi karena berkurangnya perhatian orangtua bisa membuat anak mengalami gangguan tidur; tidurnya jadi larut. Dengan begitu, ia berharap mendapat perhatian lebih dari orangtuanya.

* Belum mengantuk

Bisa jadi anak masih ingin bermain atau melakukan suatu kegiatan bersama orangtua, ikut menonton tayangan televisi seperti ayah-ibu, dan sebagainya. Bisa juga anak tidak mengantuk karena terlalu lama tidur siang dan waktu tidur malamnya bergeser lebih larut.

* Berharap kedatangan orangtua dari kantor

Sering kali anak-anak yang ditinggal pergi kerja oleh orangtuanya berusaha menahan kantuk supaya bisa bertemu ayah-ibunya. Bisa jadi perhatian di pagi hari dirasa kurang dan ada sesuatu yang diharapkan seperti oleh-oleh untuknya dari orangtua.

UPAYA MENGATASI

Agar tak sampai terjadi gangguan tidur larut malam yang berkelanjutan, maka atasi dengan langkah-langkah berikut:

* Lakukan pembiasaan waktu tidur yang teratur

Tentukan pukul berapa anak seharusnya tidur. Begitu pula dengan waktu bangunnya, agar bisa beradaptasi dengan jadwal playgroup-nya kelak. Lakukan pembiasaan tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Lama-kelamaan jam biologis tidur anak pun akan mengikuti.

* Jangan secara mendadak dan tiba-tiba menyuruh anak tidur malam

Sebelum waktunya tidur, lakukan persiapan, yaitu menggosok gigi, cuci kaki, ganti baju dengan piyama, membacakan cerita, dan berdoa. Anak perlu waktu transisi sekitar 5-10 menit untuk naik ke tempat tidur. Jika dilakukan secara tiba-tiba, anak umumnya akan menolak.

* Suasana menjelang tidur malam hendaknya mendukung

Misalnya, lampu kamar diredupkan, lampu ruang keluarga dimatikan, tak ada lagi televisi menyala, dan tak ada lagi aktivitas lain yang bisa menarik perhatian anak dari ritual tidur.

* Perhatikan kenyamanan yang dibutuhkan anak di ruang tidur

Jika anak takut gelap, sebaiknya atur pencahayaan di kamar menjadi redup tetapi tidak gelap. Bersihkan tempat tidurnya, rapikan seprainya, selimuti anak, dan berikan boneka kesayangannya agar ia merasa nyaman di tempat tidur.

* Lakukan kegiatan bermain tenang di kamar

Jika anak menolak tidur di waktu yang dijadwalkan dengan

berbagai alasan, ajaklah anak beraktivitas di dalam kamar. Pilih aktivitas yang menenangkan seperti, mendengarkan cerita, bernyanyi lagu tenang, dan mengajaknya bercakap-cakap.

* Perhatikan jam tidur siangnya

Jika anak tidur larut karena tidur siang yang lama, maka kurangi waktu tidur siangnya.

TERBANGUN DI TENGAH MALAM

Bisa terjadi, anak tidur malam sesuai jam tidurnya, namun kemudian di tengah malam terbangun. Ini wajar saja. Biasanya si kecil terbangun karena mau buang air kecil atau haus. Setelah kebutuhannya itu direspons dengan baik oleh orangtua, anak pun akan tidur kembali.

Akan tetapi, ada pula anak yang terbangun tengah malam dan kemudian tidak tidur lagi. Ini juga berarti si anak mengalami gangguan tidur. Orangtua harus memerhatikan apa yang menjadi penyebab si kecil terbangun di tengah malam. Antara lain:

* Ada pengalaman sebelum tidur yang membuatnya resah sehingga ia terbangun di tengah malam. Biasanya adalah pengalaman yang mengecewakan seperti harus berebut mainan dengan adiknya dan merasa orangtua tidak membela dirinya.

* Mimpi buruk (nightmare). Bisa karena anak melihat tayangan yang menakutkan di televisi hingga terbawa dalam mimpi, atau mimpi sesuatu yang menakutkan tanpa sebab sebelumnya. Jika anak terbangun karena mimpi buruk, orangtua perlu menenangkan di samping anak. Tak perlu panik karena anak akan bertambah takut.

* Anak terbangun karena sakit, entah karena terbentur pinggiran tempat tidur atau rasa sakit lainnya. Segera atasi rasa sakit dan penyebabnya. Anak perlu merasa nyaman agar dapat tidur kembali.

* Sebelum tidur banyak makan sehingga pencernaannya tetap bekerja.

* Aktivitas di siang hari berlebihan, contohnya terlalu banyak berlari-lari dan tertawa-tawa.

* Bisa juga karena ada gangguan pada sistem sarafnya yang membuatnya terbangun di malam hari.

* Ingin mendapat perhatian orangtua atau anak ingin melakukan kegiatan seperti bermain.

Abaikan saja keinginan anak bermain dan pergi ke luar kamar. Beri penjelasan pada anak bahwa waktunya untuk tidur dan main bisa dilakukan esok hari. Sebaiknya, orangtua juga tidak menemaninya karena akan memperkuat perilakunya dan mengulang kebiasaan bangun di tengah malamnya. Ini berarti mendukung pola tidurnya yang kacau. Biarkan ia bermain sendiri dengan mainannya di dalam kamar. Hanya saja sebelumnya, pastikan suasana kamar aman buat anak. Selain itu, jangan sediakan banyak mainan dalam kamar yang bisa dimainkan anak saat terbangun di tengah malam. Bila anak dibiarkan main sendiri, ia akan cepat merasa bosan, lelah, dan akan tertidur sendiri.

Sering kali sebelum anak terbangun di tengah malam, ia merengek dalam tidurnya. Jika tampak seperti itu dan penyebabnya bukan karena si anak sakit, orangtua tak perlu mengelus atau menepuk-nepuknya agar tertidur lagi. Bisa-bisa anak malah terbangun. Anak juga jadi tergantung secara fisik pada orangtuanya. Padahal, semakin usianya bertambah, ia sudah harus belajar untuk bisa tidur sendiri. Jadi, sebaiknya abaikan saja dan alihkan pada kenyamanan lain, seperti membetulkan letak selimut dan bantal gulingnya, atau mendekatkan mainan kesayangannya.

Dedeh Kurniasih. Foto: Iman/nakita

Narasumber Ahli:

Rini Hildayani, M.Si.

dari Fakultas Psikologi UI

About these ads

1 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

  1. terima kasih yach artikelnya, anak saya yang paling kecil syafina 5 th lagi susah untuk tidur malam,mungkin sama dengan penyebab mengembangkan otonominya.Dan mungkin dia selalu meniru kakaknya irham 10 th.mungkin perbedaan waktu bisa berpengaruh, karena kami sekarang tinggal di melaka.mudah-mudahan saya dan suami bisa konsisten dalam menciptakan suasana yang mendukung untuk pelaksanaan tidur malam anak-anak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: