Promoting RUD (Rational Use of Drugs)

Mei 5, 2008 pukul 10:44 am | Ditulis dalam kesehatan | 1 Komentar
Tag:

A. BAGIAN I

Adalah telah terselenggara sebuah workshop yang disponsori WHO yaitu Promoting RUD in the community dan diselenggarakan pertama kali tahun yl di India juga (semua kegiatan WHO perihal RUD untuk wilayah Asia diselenggarakan kalau tdk di Thailand ya di India).

Beberapa hal penting dan menarik:

Pertama, GERAKAN RUD AKAN JAUH LEBIH EFEKTIF MELALUI PROGRAM EDUKASI KONSUMEN.
Konsep RUD pertamakali dicanangkan th 1985 di Nairobi (in fact, RUD is the biggest contribution of WHO in public health)
Namun demikian, para pakar sangat prihatin akan masa depan implementasinya. Selama ini gerakan RUD ditujukan bagi provider (pemberi jasa layanan kesehatan) dan dianggap hasilnya hampir nihil. Public education merupakan salah satu indikator (dari 12 indikator implementasi RUD) … dan dianggap justru amat sangat penting sejak beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu salah satu outcome dari workshop ini adalah munculnya berbagai proyek edukasi konsumen perihal RUD.

Kedua … KONDISI RUD DI NEGARA KE3 ASIA …
Prof Krisantha .. dari WHO regional … dalam presentasinya perihal WHO perspective on RUD mengungkapkan kondisi RUD yg memperihatinkan. Di jentreng lah kondisi RUD based on those 12 indicators. Saat mengjentreng Indonesia … dia bilang di Indonesia selain payah ke 12 indikator tsb, juga tdk ada regulasi harga obat. Pas perihal Indo… dia singkat aja… INDONESIA IS … DISASTER. Sedih, tapi mau apalagi, kan begitu ya kenyataannya.

Bangladesh. Bagus banget. Mereka punya NDP (National Drug Policy yg ketat). Semua obat yg ada di Bangladesh hanya yg sesuai daftar obat esensial. Providers gak bisa meresepkan obat lain (artinya … menutup kemungkinan kolusi dg industri obat). Di Indonesia? Amoksisilin aja lebih dari 150 macam!! Makin banyak obat, makin sulit pengendalian dan monitoringnya!!
Kedua, Di Bangladesh, semua bentuk vitamin .. BANNED!! Gak ada cerita stimuno, imboost, elkana, dll dll dll
Ketiga, Tidak ada OTC alias obat bebas!!

India. NDP nya bagus. EDLnya mulai jalan (Indonesia punya daftar obat esensial tetapi implementasinya? Pemakaian generik amat sangat rendah dan peresepan umumnya obat bermerek yg mahal). Institusi pendidikan nya sangat memperhatikan etika. Misalnya, mereka terus mendengungkan bahw pemberian antibiotika pada kondisi yg tidak membutuhkannya merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika.

Indonesia? Institusi pendidikan nya teoritis bisa dan tahu ngomong soal RUD tapi pada prakteknya??? Kita tidak punya journal untuk para dokter perihal good prescribing, perihal RUD. India punya journal yg terbit regular utk para dokter. Di Bengal, mereka bahkan sudah menerbitkan journal untuk masyarakat awam perihal RUD.

Saya sangat tertarik ketika saya menyempatkan menghadiri kongres
nasional IDI nya sana. Venue? Bukan hotel bintang 5 seperti di Indo melainkan di ruang pertemuan kampus FKUI nya sana hehehe. Tidak ada satupun banner pabrik obat. Tidak ada stand pameran (di Indo biasanya bejubel sampai peserta umumnya sibuk mengumpulkan cindera mata dari berbagai stand instead of duduk mendengarkan ceramah) makanan? Bukan catering hotel bintang lima yg per orang at least 200 ribuan.

Kami makan di kebun di tengah api unggun (saya gak mau bergeming dari api unggun sampai bercucuran air mata hehehe tapi suasanya cozy banget). Makanan ya sederhana.

Di Indo, kegiatan ilmiah apalagi skala nasional, sponsor abis pabrik obat…. Saya pernah usul ketika masih jadi pengurus …tapi kayaknya saya “ada kelainan” hehehe. Kegiatan sponsor mensponsor ini berakibat ekonomi biaya tinggi… gak heran kalau harga obat di Indo selangiiitt. Tidak sedikit orang kita beli obat di malaysia atau singapur kan

Implementasi di masyarakat? Di India, Puskesmasnya 2 rupee sudah mencakup pemeriksaan dokter, obat sesuai EDL. kalau perlu lab atau ronsen, 5 rupee. Memang suasana masih kayak di Indo alias saking banyaknya pasien di puskesmas, periksanya sambil duduk, kecuali ada suatu kecurigaan baru dibaringkan dan diperiksa. Dokternya masih kuat aroma “arogansi”nya alias kedudukannya amat sangat tinggi sehingga pasien juga takut banyak bertanya. Pemberian multivitamin tonik suplemen masih marak.
Praktek swasta juga masih marak ketimbang public servicenya tapi untungnya puskesmas buka 2 kali. Jam 9 – 11 dan jam 16 – 18.
Apotik swasta masih banyak.

Di community health center di suatu distrik kecil padat Sangareena. Kondisinya kurang lebih sama dengan puskesmas kita tetapi lebih
besar meski lebih gelap (mungkin karena listrik pas lagi dipadamkan ya) tapi ventilasi kurang baik. Oh my God… look at those eyes… THE EYES OF THE BEHOLDERS!!

Perempuan kurus (buruh kasar, petani ladang), para ayah muda that seem at a lost having sick wife or baby… (“mesti bolos kerja, means kehilangan pemasukan” itu barangkali yg ada di benaknya … who knows…).

Indonesia jauh lebih “kaya” tetapi kita amat tidak bijak. Kita importir beras terbesar, India dg penduduk 1,2 milyar mengekspor beras
India punya industri obat yg bisa memenuhi 98% kebutuhan dalam negeri sekaligus diekspor termasuk ke USA (FDA akan bikin kantor di India karena mereka banyak pakai obat produksi India) …
Indonesia.. satu pabrik obat generik mati!! Bangkrut… dan mayoritas resep obat branded … import (berapa banyak kantung negara dan kantung pasien dikuras)

TAPI…. DI INDIA GAK ADA PUYER!!! DI SEMUA NEGARA PESERTA WORKSHOP
GAK ADA PUYER… nanti saya kembali ke topik yang satu ini.

Kesimpulannya… penyelewengan masih banyak di India tetapi proses menuju perbaikan terasa dan memang ada. Indo? Bisakah kita mengandalkan pada pemerintah dan institusi pendidikan?

Prof Krisantha memanggil saya secara pribadi. katanya beliau banyak mendengar kegiatan saya … saya diberi buku … Lalu kami bicara lama. salah kesimpulannya (lainnya off the record) … bagus sekali kalau Indonesia tdk mengandalkan ke2 institusi di atas melainkan menggalakkan kegiatan edukasi konsumen!! hehehe muter ya bahasanya

Ketiga … Saya diminta presentasi kegiatan saya di Indo. By the end of the session, applause and bows. Prof Goran Tomson (Swedia) staf ahli WHO utk RUD … ini pengejawantahan agar Wati tidak NATO
katanya hehehe (No action talk only) Kedua, amazing kata mereka … ini movement revolutionary – drug information services yang mempergunakan modern IT

Keempat … saya mesti menjalin network dengan LB diberi beberapa badan yg perlu dihubungi. dst dst tetapi intinya… jangan sendirian. Aduuhhh saya keopinginn banget gak sendirian tetapi Prof Roy bilang.. This field (RUD)… is a very lonely path… the only friends you have are the customers themselves... nah lho!! padahal beberapa
pihak suggest .. mesti cari support dari sesama dokter (terutama DSA) dan dari pemerintah hehehe .. lagi sibuk Tsunami saya bilang.

Kelima… saya diminta memberikan demo praktek dispensing obat di Indo. Lalu saya memberikan contoh resep untuk anak batuk pilek Mereka bingung … kok obatnya banyak banget!! Gimana cari kasihnya? Saya ambil cawan obat, masukkan semua obat … gerus!!! Heeehhhh!!

Ternyata dari semua negara participants … Indo satu2nya yg punya puyer hehehehe. Peserta yg pharmacist pada protes… aduh kan pabrik obat bikin penelitiab susah2 untuk menemukan bentuk obat yg terbaik kayak apa kok malah digerus, dijadikan satu lagi, interaksinya gimana, pharmakokineticnya gimana? Kok ahli farmasinya mau sihhhh. Saya bilang kan instruksi di resep, farmasi gak bisa ubah selain mereka sendiri juga pola pikirnya memang puyer yg terbaik!!
Lalu mereka komentar lagi .. The way you write the prescription is so ancient!!

Seorang teman berkomentar di jakarta kemarin … tapi puyer tuh yg terbaik buat anak, bisa di desain individual. Bulshit (maappp) saya bilang. kalau ini yng terbaik, yg teraman, yang termurah … pasti sudah diadopt negara lain. WHO dan Unicef pasti gak tinggal diam. pasti disosialisasikan agar dimanfaatkan negara lain seperti ketika mensosialisasikan pemberian ORS untuk anak diare karena itu yg paling tepat selain murah.

Tidak sedikit yg menyapa ketika saya baru kembali dari India .. Wat gimana India .. pasti lebih ancur ya dari kita?!
Hehehe siapa bilang. Banyak deh saya bisa ajukan argumentasi (tapi nanti kepanjangan) … Institusi pendidikannya bagus. Researchnya maju. ITnya hebat. Institusi pendidikan kedokteran mereka sangat vokal menyuarakan
RUD!!…. Guru besarnya pada turun ke lapangan!! Kasih contoh.

Kesimpulannya

Apa yg kita kerjakan sudah benar… konsumen punya daya untuk melakukan perubahan
In fact .. it is individuals that make changes
Apalagi kata M Gandhi .. knowledge without devotion is like a misfire… so please spread your knowledge

(dengan editing..)

Penulis : Dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed

yang salah satu kegiatan beliau adalah i pendiri dari milis dan web sehat

sumber

pbasari.multiply.com

B. BAGIAN 2

OBAT RACIKAN PUYER DAN PERMASALAHANNYA

Prof. dr. Rianto Setyabudi

Campuran berbagai obat yang diracik dan dijadikan “puyer” (obat
bubuk)atau dimasukkan ke dalam kapsul atau sirup oleh petugas apotik
lazim disebut compounding. Lima puluh tahun yang lalu pembuatan obat
dengan cara racikan ini dikerjakan pada 60% resep dokter, namun di
luar negeri resep racikan ini turun tinggal 1% sekarang. Di
Indonesia, termasuk Siloam Gleneagles Hospital Lippo Karawaci
(SGHLK) resep puyer untuk anak masih sering sekali dijumpai. Setiap
hari rata-rata apotik SGHLK membuat 130
resep puyer untuk memenuhi permintaan resep dokter.

Mengapa dokter sering meresepkan obat puyer?

Peresepan obat puyer untuk anak di Indonesia sangat sering dilakukan
karena beberapa faktor yaitu:

1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak secara
lebihtepat.

2. Biayanya bisa ditekan menjadi lebih murah.

3. Obat yang diserahkan kepada pasien hanya satu macam, walaupun
mengandung banyak komponen.

Apa masalah yang ditimbulkan pembuatan obat racikan bentuk puyer?

Dewasa ini peresepan obat puyer di negara maju sudah sangat berkurang
karena:1. Kemungkinan kesalahan manusia dalam pembuatan obat
racik puyer ini tidak dapat diabaikan, misalnya kesalahan menimbang
obat, atau membagi puyer dalam porsi2 yang tidak sama besar. Kontrol
kualitas sulit sekali dapat dilaksanakan untuk membuat obat racikan
ini.

2. Stabilitas obat tertentu dapat menurun bila bentuk aslinya
digerus, misalnya bentuk tablet salut selaput (film coated), tablet
salut selaput (enteric coated), atau obat yang tidak stabil
(misalnya asam klavulanat) dan obat yang higroskopis (misalnya
preparat yang mengandung enzim pencernaan)

3. Toksisitas obat dapat meningkat, misalnya preparat lepas
lambat bila digerus akan kehilangan sifat lepas lambatnya.

4. Waktu penyediaan obat lebih lama. Rata2 diperlukan waktu 10
menit untuk membuat satu resep racikan puyer, 20 menit untuk racikan
kapsul,sedangkan untuk mengambil obat jadi diperlukan waktu hanya
kurang dari 1 menit. Kelambatan ini berpengaruh terhadap tingkat
kepuasan pasien terhadap layanan di SGHLK.

5. Efektivitas obat dapat berkurang karena sebagian obat akan
menempel pada blender/mortir dan kertas pembungkus. Hal ini
terutamaterjadi pada obat-obat yang dibutuhkan dalam jumlah kecil,
misalnya puyer yang mengandung klopromazin

6. Pembuatan obat puyer menyebabkan pencemaran lingkungan yang
kronisdi bagian farmasi akibat bubuk obat yang beterbangan ke
sekitarnya. Hal ini dapat merusak kesehatan petugas setempat

7. Obat racikan puyer tidak dapat dibuat dengan tingkat
higienis yang tinggi sebagaimana halnya obat yang dibuat pabrik
karena kontaminasi yang tak terhindarkan pada waktu pembuatannya

8. Pembuatan obat racikan puyer membutuhkan biaya lebih mahal
karena menggunakan jam kerja tenaga di bagian farmasi sehingga
asumsi bahwa harganya akan lebih murah belum tentu tercapai

9. Dokter yang menulis resep sering kurang mengetahui adanya
obat sulit dibuat puyer (difficult-to compound drugs) misalnya
preparat enzim

10. Peresepan obat racik puyer meningkatkan kecenderungan
penggunaan obat irasional karena penggunaan obat polifarmasi tidak
mudah diketahui oleh pasien.

Bagaimana mengatasinya?

Dari uraian di atas terlihat bahwa peresepan racikan puyer membawa
risiko untuk pasien dan berbagai dampak negatif lainnya. Sebagai
rumah sakit yang bercita-cita mencapai standar internasional,
khususnya dalam melindungi keselamatan pasien, maka di RSSG
frekuensi penulisan resep dan pembuatan obat racikan ini perlu
diupayakan untuk dihapus.

Komite Farmasi dan Terapi SGHLK menganjurkan agar penulisan resep
obat racik puyer dan pembuatannya dibatasi hanya untuk kebutuhan
obat yang tidak tersedia dalam bentuk formulasi untuk anak atau bila
untuk sementara tidak tersedia di pasaran. Obat-obat untuk anak yang
tersedia dalam bentuk obat sirup atau tetes misalnya amoksisilin,
ibuprofen, parasetamol, teofilin, bromheksin, dll. seyogyanya tidak
lagi diresepkan dalam bentuk racikan puyer.

Untuk membantu para dokter mengetahui obat apa saja untuk anak yang
tersedia dalam bentuk formulasi pabrik, bagian farmasi akan
menyediakan daftar obat2 tersebut kepada para dokter di SGHLK. Kelak
diharapkan semua kebutuhan obat untuk anak dapat dipenuhi
berdasarkan obat formulasi pabrik.

Layanan informasi ini disusun oleh Komite Farmasi dan Terapi

Siloam Gleneagles Hospital Lippo Karawaci.

C. BAGIAN 3

Apa itu polifarmasi?

Polifarmasi yaitu suatu keadaan dimana konsumen kesehatan mengkonsumsi beberapa pengobatan sekaligus. Dapat juga diasosiasikan mengkonsumsi berdasarkan resep dan juga menggunakan terlalu banyak obat-obatan yang tidak perlu pada dosis dan frekuensi yang lebih banyak daripada esensi terapinya. Namun, beberapa penggunaan pengobatan sekaligus juga ada yang penting dan merupakan perawatan terbaik untuk konsumen kesehatan.

Resiko lebih pada orang tua

Orang tua memiliki rata-rata tinggi untuk terkena penyakit kronik dan biasanya menggunakan beberapa pengobatan sekaligus. Polifarmasi meningkatkan resiko terkena efek samping obat seperti kemunduran fungsional beberapa organ tubuh dll. Orang tua biasanya terkena penglihatan dan pendengaran yang menurun serta kehilangan ingatan dll.
Reaksi merugikan bisa jadi tidak terdeteksi karena berhadapan dengan keadaan orang tua yang biasanya mulai pelupa dan lemah. Reaksi merugikan juga bisa diintepretasikan sebagai kondisi medis sehingga diberikan resep obat lagi.

Langkah-langkah memanajemen polifarmasi

1. Pencegahan Hanya mengkonsumsi obat jika ada bukti yang baik sehingga betul-betul dalam keadaan membutuhkan pengobatan. Batasi diri untuk mengkonsumsi obat untuk keadaan yang bisa disembuhkan tanpa obat.
2. Review pengobatan secara rutin Catatan penggunaan obat sangat penting untuk konsumen kesehatan yang menjalani beberapa pengobatan. Sangatlah baik untuk konsumen kesehatan memiliki catatan ini dirumah. Review termasuk yaitu terapi yang sedang dijalani, akan dijalani, efek samping, interaksi, dosis, formulasi obat dan juga berapa lama dilakukan.
3. Pendekatan Non farmasi Gunakan gaya hidup sehat untuk mengukur kapan perlunya tindakan pengobatan.
4. Komunikasi Komunikasi dengan tenaga kesehatan sangat penting terutama mengenai ekspektasi, kesulitan dalam pengobatan dan kemampuan konsumen untuk memenuhi aturan pengobatan.
Diskusikan setiap perubahan dalam peraturan pengobatan dengan penyedia kesehatan.
5. Sederhanakan Kurangi mengkonsumsi obat yang dijadikan pilihan dan pengobatan placebo. Pertimbangkan kemungkinan sekecil apapun untuk dosis yang paling kecil, interval dan pengurangan dosis sepanjang itu tepat.
  • Setiap pengobatan harus dipandang sebagai percobaan dan dihentikan jika tidak efektif atau memiliki efek samping yang tidak dapat diterima.
  • Gunakan pengobatan hanya jika perlu. Kurangi dosis dan frekuensinya jika disarankan.
  • Sebaiknya setiap pasien harus ada teman/saudara yang bertanggung jawab penuh terhadap penggunaan pengobatan yang dilakukan kepada yang sakit.
  • Untuk beberapa kasus, berhati-hati terhadap diskontinu pengobatan karena dapat dianggap sebagai efek merugikan dan justru harus diulang kembali.

Source

Pillans, P. What is polypharmacy?. Available at http://www.nps.org.au/site.php?content=/html/news.php&news=/resources/NPS_News/news13

WS

milis dan web sehat

Related article:

gunakan obat secara bijak

– tradisi menulis resep obat perlu di koreksi (www.ugm.ac.id)


1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hello! This is my first visit to your blog! We are a group of volunteers and starting a
    new project in a community in the same niche. Your blog provided us beneficial information to work on.
    You have done a marvellous job!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: