Bingung Bahasa pada Anak

Juni 4, 2008 pukul 5:13 am | Ditulis dalam Orang Tua dan Buah Hati | Tinggalkan komentar
Tag:

Dua kalimat percakapan antar 2 orang dewasa di bandara yang sempat singgah di telinga saya.

“Minna , genki-kah?”

” I little-little busy lah !” (baca: Ai litel-litel bisi-lah )

Memang fenomena “substitusi” kata asing banyak terjadi di kalangan orang dewasa. Entah karena sengaja atau tidak disengaja. Maksud si pengucap juga berbagai macam.

Kalau pada orang dewasa, tentu semua kembali pada niatan masing-masing. Tetapi bagaimana jika hal tersebut terjadi pada anak kecil?

kemampuan bicara anak sangat bergantung pada masukan bahasa yang diberikan lingkungannya.Bisa jadi anak kecil yang dahulu fasih bahasa A, namun karena tinggal beberapa waktu di daerah B, bahasa A yang dikuasainya jadi hilang/lupa.

Terlepas bahwa ia melupakan bahasa asalnya, bahasa A, seorang anak ternyata mampu menguasai bahasa kedua, ketiga dan seterusnya asalkan stimulus diberikan oleh orang yang memang fasih berbahasa tersebut. Kalau orang tua misalnya tidak memiliki kemampuan berbahasa yang baik, seperti kemampuan berbahasa Inggrisnya hanya setengah-setengah, sebaiknya tak usah memaksakan diri menerapkannya pada anak.

BINGUNG BAHASA

umumnya sejak lahir manusia sudah mengenal beberapa bahasa sekaligus, yakni bahasa ibu dan bahasa kedua. “Bahasa ibu adalah bahasa sehari-hari yang digunakan untuk kebutuhan berkomunikasi,” ungkapnya, “sedangkan bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari setelah bahasa pertama.”

jika sudah menguasai bahasa ibunya, anak tidak akan mengalami bingung bahasa walau dikenalkan pada bahasa lain. Itu karena pada dasarnya anak mampu memilah-milah bahasa yang diterimanya.

apa penyebab utama anak bingung bahasa? “Ketidakkonsistenan adalah faktor utama terjadinya bingung bahasa.

sebaiknya sampai anak berusia sekitar 2 tahun, orang tua menggunakan satu bahasa yang dominan sebagai bahasa aktif bagi anak. Karena anak kita tinggal di Indonesia maka pilihlah bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Alasannya, anak butuh bersosialisasi dengan lingkungan yang berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Kecuali bila ada rencana tinggal di luar negeri yang menggunakan selain bahasa Indonesia. Kenapa di usia 2 tahun, karena umumnya di usia inilah anak mulai bisa berujar kalimat-kalimat yang terdiri atas tiga kata.

Jika si kecil sudah bisa merangkai tiga kata menjadi satu kalimat, bahasa kedua bisa diberikan secara lebih intens karena di usia ini anak dapat membedakan dengan siapa dia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dan dengan siapa ia dapat berbahasa Inggris, misalnya. Namun bila sampai usia dua tahun anak belum mampu menyebutkan satu kata dengan lengkap, bicara terbata-bata, atau malah jarang sekali bicara, maka sebaiknya orang tua memfokuskan penggunaan satu bahasa saja, yaitu bahasa utama atau bahasa ibu.

AGAR TAK BINGUNG BAHASA

Secara linguistik sebenarnya anak sudah bisa menerima enam bahasa sekaligus, misalnya bahasa Indonesia, Jawa, Prancis, Inggris, Cina, dan Arab. Karena berdasarkan penelitian anak sudah bisa memilah-milah masing-masing bahasa yang diterimanya dari luar. Tentu, kemampuan penerimaan ini tetap berpatokan pada perkembangan kemampuan berbahasanya per usia dan harus melalui pengenalan yang tepat dan benar agar tidak terjadi yang namanya bingung bahasa. Inilah cara yang tepat jika Anda ingin mengenalkan beberapa bahasa pada anak.

* Harus konsisten

Ketika ingin mengenalkan bahasa kedua, maka kita harus mengenalkannya secara konsisten. Misal, ibu memutuskan berkomunikasi dengan anak dalam bahasa Inggris dan ayah menggunakan bahasa Indonesia. Pembagian peran ini sebisa mungkin dilakukan konsisten. Setiap kali berbicara pada anak maka gunakan bahasa yang sudah dipilih.

Mungkin, dalam situasi tertentu, dimana ibu terpaksa tidak berbahasa Inggris beritahukan pada anak, “Dek, maaf ya, Ibu bicara dalam bahasa Indonesia, tapi lain kali kita pakai bahasa Inggris,” misalnya demikian. Tujuannya agar anak mengerti bahwa ibunya tidak bermaksud mencampuradukkan bahasa.

* Tidak dicampur aduk

Bila sudah memutuskan untuk berbahasa Inggris dengan anak, maka sangat tidak dianjurkan mencampuradukkan bahasa itu dengan bahasa lain. Misalnya, ketika ingin bilang, “Saya sedang makan” seharusnya ibu menggunakan kalimat, “I’m eating now” bukan, “Ibu eating dulu ya.” Hal ini akan membuat anak tidak tahu cara berbahasa yang benar.

* Sesuai tata bahasa

Tata bahasa yang kita gunakan pun harus sesuai dengan tata bahasa yang berlaku. Mendidik anak berbahasa secara benar jelas bermanfaat, selain untuk menghindari kebingungan anak. Misalnya, karena kurang menguasai tata bahasa Inggris dengan baik, seperti ketika si kecil makan, ibunya menyemangati dengan kalimat, “Good boy, you eated now.” Padahal tata bahasanya yang betul adalah, “Good boy, you’re eating now“. Bila kemudian anak berbicara dengan orang lain dan tata bahasanya dikoreksi, tak mustahil anak akan bingung, sebenarnya siapa yang benar ibunya atau orang yang mengoreksinya.

* Pelafalan tepat

Bagi orang Indonesia, lafal kata dalam bahasa Inggris sering kali sulit karena ada bunyi-bunyi yang tidak ditemukan dalam kosakata Indonesia. Misalnya, menyebut kata “table” si ayah menggunakan logat Inggris sedangkan si ibu menggunakan logat Indonesia. Bila antara ayah dan ibu berbeda menyebutkannya, ini mungkin akan menambah kebingungan anak.

Atau, di dalam bahasa Inggris pun ada versi American English dan British English yang pada beberapa kata diucapkan berbeda. Seperti kata “dance”, dalam American English di baca [dens], sedangkan dalam British English dibaca [dans]. Bila anak tak tahu asal muasalnya, mungkin saja ia akan bingung.

Kalau orang tua tidak mampu mengenalkan bahasa asing secara tepat, sebaiknya jangan dipaksakan. “Ada cara lain yang lebih efektif, misalnya memasukkan anak ke kurus bahasa asing, memberikan film atau pendidikan berbahasa asing, buku-buku berbahasa Inggris, memasukkan ke klab-klab bahasa Inggris, dan sebagainya.

DENGAR DULU BARU BICARA

Penguasaan bahasa pada anak mengandalkan apa yang disebut language acquisition device (LAD). Prosesnya dapat digambarkan sebagai bagan piramida. Di bagian bawah yang merupakan awal penguasaan bahasa adalah kemampuan mendengar, kemudian di atasnya berbicara, membaca, dan menulis.

Fungsi LAD adalah memproses input bahasa di sekeliling kita dan mengeluarkannya menjadi output bahasa. Contohnya, ketika anak mendapat masukan bahasa Indonesia maka dia akan mengeluarkan atau berbicara dengan bahasa Indonesia pula. Bila anak diberi input bahasa Inggris maka dia akan berbicara bahasa Inggris. Demikian seterusnya asalkan konsisten. Kesimpulannya, setiap anak akan mengeluarkan atau berbicara dengan bahasa yang didengarnya.

Namun LAD tidak berfungsi otomatis dalam hal kemampuan membaca atau menulis karena keduanya harus melalui proses belajar. Walaupun seseorang hidup sampai usia 80 tahun dan setiap hari terekspos dengan tulisan namun jika tidak pernah ada yang mengajarkannya dia tidak akan bisa membaca.

Jika anak terlanjur mengalami bingung bahasa , hal itu bisa terurai dengan sendirinya seiring perkembangan usia. Namun demikian, tidak sepatutnya orang tua membiarkan hal itu terjadi karena berarti dalam beberapa waktu anak tidak mampu menyerap stimulasi dan menjajal kemampuannya dengan baik. Jika kasusnya cukup rumit, tidak ada salahnya orang tua mencari jalan keluar dengan bantuan psikolog.

Sumber:

Herlina Mohammad, S.Pd., M.A., Ph.D Cand.,

Direktur Rapid Reader Indonesia, pemimpin lembaga pengajaran bahasa asing bagi anak

Tabloid.Nakita 315 th VII

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: