Cara Memperkenalkan Aneka Suasana pada Batita

Juni 4, 2008 pukul 8:17 am | Ditulis dalam Orang Tua dan Buah Hati | 2 Komentar
Tag:

Lingkup pergaulan batita masih sangat terbatas dalam yang istilah psikologinya disebut masih berada dalam lingkungan mikro. Lingkungan terkecil di luar dirinya ini disebabkan pengenalannya masih sebatas pada orang tua, pengasuh, dan nenek atau kerabat yang mungkin tinggal serumah atau sering saling mengunjungi. Aktivitasnya pun masih seputar makan, minum, tidur, main dan beberapa rutinitas terbatas lainnya. Tak heran begitu anak bertemu dengan suasana yang tidak ditemuinya tiap hari, ia jadi gelisah dan merasa tidak siap.Ketidaknyamanan itulah yang akhirnya menjelma dalam bentuk kerewelan.

situasi lain seperti apa yang perlu dikenalkan pada anak?

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

* Mengajaknya ke acara keluarga

Mengajak anak menghadiri acara keluarga besar merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengenalkannya pada situasi berbeda. Selama ini, di lingkungannya yang sangat terbatas, anak hanya mengenal beberapa figur, seperti orang tua, pengasuh, tetangga dan kerabat dekat.

Dengan mengajak anak menghadiri acara ini, diharapkan anak dapat berkenalan dengan lebih banyak orang yang mempunyai karakter berbeda-beda.Pengenalan beragam karakter ini akan membuat si batita siap bertemu dengan banyak orang.

* Mengajaknya ke pusat keramaian

Sesekali perlu juga mengajak anak ke pusat keramaian, seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, dan sebagainya. Namun, karena tujuannya sekadar pengenalan, orang tua tidak perlu berlama-lama atau malah seharian berada di tempat tersebut. Seberapa lama, sesuaikan saja dengan daya tahan anak.

Yang tak kalah penting, di pusat keramaian ini, orang tua jangan hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Tunjukkan pada anak hal-hal yang jarang dilihatnya, seperti dekorasi toko, eskalator, aneka permainan, kasir toko, dan sebagainya.

* Menginap di rumah kerabat

Biasanya anak batita akan sulit tidur bila tidak di rumahnya sendiri. Namun, tak ada salahnya sesekali orang tua mengajaknya menginap di rumah kerabat. Selain untuk mengakrabkan ikatan kekerabatan, anak pun dikenalkan pada situasi yang berbeda. Yang paling mudah adalah mengajaknya menginap di rumah nenek.

Suasana yang berbeda akan memperkaya emosi anak, semisal tempat tidur kuno yang membuatnya merasa adem, suasana rumah yang nyaman meski tanpa AC, halaman luas dengan pohon rindang, dan sebagainya. Pengenalan pada situasi berbeda seperti ini secara tidak langsung akan melatih mental anak.

* Berpisah sementara dengan orang tua atau pengasuh

Sesekali tak ada salahnya orang tua belajar meninggalkan anak. Tidak harus lama, cukup beberapa jam saja dan tujuannya pun jangan jauh-jauh. Biarkan anak di rumah di bawah pengawasan orang dewasa yang dipercaya. Latihan ini akan membuat batita belajar mengatasi rasa gelisahnya saat berpisah dari orang tua. Diharapkan anak akan memahami bahwa dengan ditinggal orang tua ia tidak perlu cemas. Toh, sebentar lagi mama dan papa akan segera kembali.

* Mengajak ke pengajian/ta`lim

Anak akan terbiasa dengan suasana belajar dan religius. Ajaklah anak pada lingkungan dan teman yang baik, karena hal itu akan sangat berpengaruh sampai dewasa kelak.

MANFAAT

banyak manfaat yang akan didapat anak bila ia dibiasakan menghadapi aneka situasi yang tidak terduga tetapi masih dalam jangkauannya. Antara lain:

* Memperluas lingkungan

Anak batita yang masih berada dalam lingkungan mikro akan sangat terbantu oleh sering dilibatkan dalam beberapa situasi berbeda. Dengan demikian, lingkungannya akan melebar menjadi mezo yang merupakan lingkaran berikutnya setelah mikro. Anak jadi kenal om-tante, pakde, sepupu, eyang dan lain-lain yang mungkin jarang ditemuinya.

* Lebih percaya diri

Situasi berbeda-beda yang sering dimasuki anak akan membuatnya lebih percaya diri. Tidak hanya sekali dua kali saja ia menghadapi perubahan situasi tersebut dan ternyata bisa melaluinya dengan sukses. Pengalaman positif ini akan tertanam dalam pikirannya yang masih sangat sederhana dan memberi kontribusi dalam mempertebal rasa percaya dirinya.

* Lebih berani

Keberanian anak akan tumbuh seiring dengan banyaknya contoh yang dilihat. Saat berada di taman bermain, misalnya, anak melihat teman-teman sebayanya berani mencoba aneka permainan yang ada di situ. Melihat keasyikan anak-anak lain, ia pun akan tergoda untuk melakukan hal serupa dan ternyata berhasil. Keberhasilan ini akan menjadi modal baginya untuk mencoba hal-hal baru lain yang membutuhkan keberanian dalam porsi lebih besar.

* Tempo adaptasi lebih cepat

Anak yang terbiasa berada di situasi yang berbeda-beda, alias rutinitasnya tidak “datar” akan mempunyai kemampuan beradaptasi yang lebih cepat. Soalnya, anak sudah punya pengalaman bahwa bertemu banyak orang atau bersalaman dengan orang-orang baru ternyata aman-aman saja, kok. Di lain waktu suasana seperti apa pun tidak membuatnya cemas. Dengan kata lain, ia jadi lebih mudah menyesuaikan diri.

* Lebih mudah menerima orang baru

Pengalaman berkenalan dengan banyak orang akan membuatnya merasa yakin bahwa orang yang baru dikenalnya bukanlah sosok yang berbahaya. Dengan segala keterbatasannya, anak akan lebih mudah menerima kehadiran orang-orang baru.

* Mampu sharing dengan orang lain

Seringnya anak bertemu dengan banyak orang akan memberinya pengalaman bagaimana seharusnya ia berbagi. Misalnya dalam acara keluarga, anak akan berjumpa dengan sepupu-sepupunya. Anak yang terbiasa menghadapi suasana baru relatif lebih mudah berbagi mainan dan makanannya, karena ia yakin nanti akan tiba gilirannya untuk menikmati permainan tersebut seperti yang sudah dialaminya selama ini.

* Tidak gampang rewel

Kerewelan anak ketika berada dalam situasi yang tidak diduganya harus dimaklumi bersumber pada kecemasan dan perasaan gelisah yang dialaminya. Nah, anak yang sering berada pada berbagai situasi berbeda tersebut sudah membuktikan bahwa semuanya aman-aman saja. Sehingga ia pun “sadar” tidak ada yang perlu dicemaskannya, apalagi sampai harus menangis.

* Melatih keterampilan lain

Orang tua sekaligus bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan banyak hal pada anak. Misalnya bagaimana seharusnya bersikap pada orang yang baru dikenalnya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman, menyebutkan namanya saat ditanya, dan sebagainya. Pengalaman di tempat baru seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, dan rumah kerabat dapat dimanfaatkan untuk menambah perbendaharaan kata anak. Contohnya dengan mengenalkan nama benda-benda yang baru dijumpainya di tempat tersebut.

BAGAIMANA CARA ORANG TUA MEMULAINYA ?

* Aktivitas sebaiknya dilakukan dengan melibatkan orang tua. Misalnya saat anak menginap di rumah nenek, walaupun anak sudah mengenal nenek dengan baik, tapi sebaiknya pengalaman pertama ini tetap didampingi orang tua.

* Orang tua harus sabar.

Pada dasarnya kemampuan adaptasi masing-masing anak bersifat individual. Jangan pernah memaksa anak untuk segera menyesuaikan diri dengan suasana barunya hanya karena melihat anak tetangga terlihat mudah melakukan hal yang sama.

* Lakukan latihan-latihan kecil.

Sebelum mengajak anak “menemui” situasi barunya, semisal mengajaknya ke acara keluarga atau meninggalkannya di rumah hanya bersama pengasuh, berikan gambaran yang positif. Yang pasti, orang tua mesti memberikan gambaran positif lebih dulu mengenai situasi yang akan dimasukinya. Dengan begitu anak punya gambaran menyenangkan tentang suasana tersebut.

* Jangan lupa bawakan benda/makanan kesukaannya.

Ini akan bermanfaat untuk mengalihkan perhatiannya kala ia mulai rewel. Apalagi saat menginap di rumah kerabat. Bahkan, boneka, dan selimut kesayangannya kalau ada jangan sampai ketinggalan. Ini penting agar ia bisa mengurangi keterasingan yang dirasakannya.

* situasi haruslah masih bisa dimengerti oleh anak

* Cari waktu yang tepat.

Ada baiknya momen pertama mengenalkan anak pada suasana yang berbeda di rumah kerabat bertepatan dengan peristiwa yang menyenangkan. Misalnya, selamatan hari ulang tahun, selamatan kelulusan, selamatan rumah baru, hari raya keagamaan, dan sebagainya. Biasanya suasana penuh suka cita bisa membantu anak mengurangi ketegangannya.

PERSIAPAN YANG DILAKUKAN

lakukan persiapan sebaik mungkin, baik persiapan fisik maupun mental.

Bila merupakan pengalaman pertama, usahakan agar pengalaman pertama ini menyenangkan. Jika perlu, upayakan agar ia merasa perubahan suasana yang ditemui tak jauh berbeda dari kondisi sehari-hari yang ditemui. Mengenalkan suasana yang berbeda dari biasanya tergolong melatih stres bagi anak. Manfaatnya, anak jadi tahan banting dan kelak ia akan mudah beradaptasi.

Berikut beberapa persiapan yang dapat dilakukan:

1. Sampaikan sesuatu yang positif dan menyenangkan untuk anak.

Tujuannya untuk membangkitkan semangat anak. Misal, “Di sana kita nanti bakal bertemu Nenek, Tante, sepupumu…(sebutkan kerabat atau kenalan yang disenangi).” Atau, sejumlah mainan yang mungkin bakal ditemui di sana dan menarik hatinya.

2. Sampaikan sejumlah harapan yang diinginkan.

Sampaikan harapan orang tua jauh hari sebelumnya karena umumnya tujuan orang tua mengajak anak ikut dalam acaranya adalah untuk bersosialisasi dan paham norma-norma sosial yang berlaku. Sampaikan harapan kita secara bertahap. Jangan langsung sekaligus semuanya. Sesuaikan dengan kondisi yang sedang dialaminya saat itu. Contoh, “Kalau makan yang pintar ya… suap sendiri dan jangan berteriak-teriak kalau ada yang tidak menyenangkan. Bilang saja ke Bunda.” Pesan yang disangkutkan pada aktivitasnya saat itu akan lebih mudah diingat anak batita.

3. Sampaikan dampak yang bakal diterima bila ia tak berperilaku seperti yang diharapkan.

Khusus untuk dampak yang ditimbulkan sebaiknya jangan melulu demi orang lain. Beri tahu pula bahwa akibat buruk bisa dialami dirinya dan orang tuanya. Umpama, “Kalau teriak-teriak dan banting-banting barang saat ngambek, Adek bisa malu. Mama juga malu, lo.” Melalui cara ini diharapkan anak memiliki anggapan bahwa segala sesuatunya bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk dirinya dan orang tuanya.

4. Ciptakan rasa nyaman sebelum berangkat.

Persiapkan jadwal keberangkatan sebaik mungkin, sehingga tak terburu-buru yang dapat berdampak pada ketidaknyamanan. Misal, anak memiliki kebiasaan mandi lama, cobalah mandi jauh sebelum waktu berangkat. Pada prinsipnya, tumbuhkan perasaan nyaman agar anak merasa senang. Saat anak sudah merasa tidak nyaman atau jengkel, biasanya akan terus rewel.

Bila perlu, perhatikan jadwal makannya. Jika telah memasuki saat makan, biarkan si batita makan terlebih dulu. Perut yang lapar dapat mengundang kerewelan. Demikian pula perhatikan busana yang digunakan, apakah ia akan kepanasan nanti atau tidak. Pilih baju berbahan katun yang nyaman bila cuacanya panas. Atau, bila anak sedang tidak enak badan, hindari mengajaknya bepergian karena biasanya bakal rewel terus-menerus.

JIKA REWEL

Sebetulnya, tidak semua anak batita rewel bila diajak bepergian. Namun harus diingat bahwa pada dasarnya anak di bawah usia tiga tahun sedang berada dalam masa-masa yang paling sulit. Ini terutama karena pengaruh perkembangan emosinya, sehingga kalau kemudian ada beberapa anak yang mengekspresikan kesulitannya dalam bentuk kerewelan

MENGAPA REWEL?

Ada beberapa faktor penyebab kerewelan saat anak diajak ke luar rumah:

Pertama, bila penyebabnya terjadi di luar kebiasaan.Kalau biasanya anak anteng-anteng saja setiap diajak pergi, tapi kali ini jadi amat rewel, orang tua harus segera mewaspadai jangan-jangan kondisi anaknya sedang tidak fit, lelah, bosan dan sebagainya

Kedua, memasuki situasi asing di lingkungan yang baru juga membuat anak merasa tidak nyaman. Apalagi kalau tidak ada seorang pun yang dikenalnya, selain orang tuanya sendiri. Hal tersebut membuat anak merasa gelisah dan biasanya diekspresikan dalam bentuk kerewelan

Ketiga, anak memang sengaja cari perhatian.Anak pernah rewel saat diajak bepergian. Lalu dengan kerewelannya, anak merasa mendapat perhatian dari orang tuanya. Kalau itu yang terjadi, anak akan mengulanginya lagi ketika berada pada situasi yang sama untuk mendapat reaksi serupa yang diinginkannya.

Keempat,anak dengan temperamen tertentu pun, seperti melankolik, akan lebih gampang rewel daripada anak dengan temperamen lain. Bukankah anak melankolik pada dasarnya memang lebih cengeng, rentan dengan situasi baru, sulit beradaptasi dan sebagainya. Tak mengherankan kalau anak tipe ini cenderung rewel bila diajak bepergian.

kondisi anak tak bisa digeneralisir.Anak yang terbiasa hidup dengan keluarga besar atau banyak orang di sekelilingnya, kemungkinan besar akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berubah-ubah. Sementara, anak yang sangat jarang bertemu dengan orang asing, semisal hanya tinggal dengan orang tuanya, jelas membutuhkan waktu ekstra untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

TRIK MENCEGAH KEREWELAN

Bila mengajak si batita , satu hal yang patut diingat dan disadari oleh orang tua adalah jangan paksa anak untuk ikut mengejar target orang tua. Ada orang tua yang berharap dapat mengikuti acara sepenuhnya karena sudah lama tak hadir. Sementara orang tua lupa bahwa ia membawa si batita yang kerap rewel. Nah, untuk mencegah terjadinya kerewelan, ada sejumlah trik yang dapat dilakukan.

1. Batita umumnya sangat sensitif dengan udara dan bau.

Bila mungkin, pilihlah tempat yang memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga ia ia tetap merasa nyaman meski banyak orang hadir di sekitarnya.

2. Tempatkan batita dekat dengan teman sebayanya.

Dengan demikian akan ada kegiatan yang dapat dilakukan bersama. Sedikitnya kegiatan itu diharapkan mampu mengalihkan perhatiannya untuk mengurangi kebosanan.

3. Bawalah mainan yang disenangi.

Bila perlu, bawalah lebih dari satu mainan karena batita umumnya mudah bosan. Jika ia bosan dengan satu mainan, masih ada mainan lain yang dapat dimanfaatkan.

4. Hindari sikap cuek.

Saat asyik mendengarkan ceramah di tempat ibadah atau mengobrol dengan kerabat di pertemuan keluarga, sempatkan sesekali untuk mengajak anak mengobrol atau menyapanya. Anak yang merasa tidak dipedulikan biasanya mudah rewel.

5. Tingkatkan secara perlahan rentang waktunya.

Pada tahap awal, cobalah si batita untuk bertahan dalam ruangan dalam jangka waktu pendek. Misal, 10 menit dulu. Bila si batita telah mampu bertahan selama 10 menit, berikan penghargaan. Ungkapkan kepadanya bahwa orang tua bangga dan sekarang coba ditingkatkan rentang waktunya. Batita yang mampu tenang selama 15 menit sudah tergolong baik.

6. Ajaklah sesekali keluar ruangan.

Sesekali ajak ia keluar dan melakukan aktivitas, baik lari-larian atau sekadar jalan-jalan di taman atau di luar ruangan. Maksudnya untuk menyalurkan keinginan si batita beraktivitas. Jangan paksa anak duduk tenang di dalam.

7. Jangan asal memarahi, berikan alasan yang tepat.

Bila anak tak boleh ribut, sampaikan alasan yang tepat dan masuk akal. Misal, suara orang yang memberi ceramah jadi tidak terdengar oleh teriakan dan tangis

8. Orang tua harus mempersiapkan dirinya sendiri maupun anaknya sebelum bepergian. Apalagi bila ada indikasi anak akan rewel.

9. Perkirakan waktu dan jarak tempuh, untuk melakukan antisipasi. Kalau hanya bepergian sebentar, contohnya, tak perlu ada persiapan heboh.

10. Ceritakan hal-hal positif yang akan ditemui anak.

11. Jangan terlalu memaksa bila anak terlihat enggan diajak bepergian. Cari waktu yang tepat saat akan berangkat.

oleh :www.rumahkusorgaku.wordpress.com

sumber: tabloid nakita.com

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sangat bagus..memberikan pengetahuan baru bagi orang tua yang memiliki anak batita…

  2. Sip . . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: