Melatih Si Kecil Berpuasa

Juli 16, 2008 pukul 5:35 am | Ditulis dalam Orang Tua dan Buah Hati | Tinggalkan komentar
Tag:

Banyak orang tua melarang anak-anak mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Alasannya takut jatuh sakit, tidak kuat dan lain sebagainya. Para orang tua hendaklah mendidik anak-anak kecil untuk berpuasa agar mereka terlatih dan terbiasa serta akan menjadi tabiat (kebiasaan) untuk melaksanakan prinsip (dasar) dari agama Islam pada hati-hati mereka. Sebenarnya puasa bukanlah hal yang berat, bahkan puasa mempunyai beberapa manfat dan efek yang baik bagi jasmani dan mental anak.Bagaimana kaidah dan kiat melaih balita Anda untuk berpuasa?

Manfaat Shaum Bagi Anak

Selain hal tersebut di atas, banyak manfaat yang dapat dipetik dari latihan puasa bagi anak, antara
lain:

1. Anak mempraktikkan dengan pengalaman langsung bahwa ia akan selalu
merasa diperhatikan oleh Allah swt. Dengan demikian, ia akan berusaha
berlaku jujur dan ikhlash dalam berkata, bersikap dan melakukan apa
pun. Sesungguhnya, pendidikan yang paling efektif adalah dengan
mengalami secara langsung.

2. Anak terlatih sabar dalam mengendalikan potensi emosinya. Jiwa anak
yang lebih mengedepankan emosinya dan belum mampu berfikir kedepan,
terutama saat menghendaki sesuatu atau konflik dengan teman, akan
teredam melalui shaum.

3. Anak terlatih dalam kemampuan mengendalikan segala keinginannya.
Shaum melatih anak tidak bersikap konsumerisme, menjauh dari pandangan
materialistik, apalagi perilaku hedonis.

4. Melatih anak memiliki pandangan ke depan dan sikap pejuang. Salah
satu ukuran anak memiliki kecerdasan emosi yang tinggi adalah
kemampuan ia menunda kenikmatan sementara untuk mencapai kenikmatan
jangka panjang. Daniel Goleman, pencetus teori kecerdasan emosi
mempopulerkan marshmallow test.

Dari hasil tes itu ditemukan bahwa anak yang mampu menunda menyantap
marsmallow dengan menunggu beberapa saat sang peneliti kembali ke
ruangan, agar mereka mendapat marsmallow lebih banyak daripada mereka
yang menyantap langsung, ternyata sampai dengan SMU anak-anak ini
memiliki prestasi 200 poin lebih tinggi dari teman-temannya yang
menyambar langsung marsmallownya..

5. Mendidik anak mensyukuri nikmat Allah swt. melalui berbagai
aktivitas ibadah vertikal dan sosial.

Tentu saja, para pembaca dapat menambahkan lagi sejumlah manfaat lain
yang berimplikasi pada peningkatan potensi dan kemampuan anak sesuai
dengan kajian atau disiplin ilmu masing-masing, seperti dari sisi
kesehatan, pendidikan dan lain-lain.
 Melatih Anak Shaum Sejak Dini

Shaum di bulan Ramadhan bagi anak-anak belum baligh bukanlah suatu
kewajiban. Ulama salaf, seperti Ibnu Sirin dan Az-Zuhri memandangnya
sebagai sunnah. Imam Syafi'i berpendapat, anak-anak - bila orang tua
mereka telah memandang memiliki kondisi dan kemampuan yang memadai -
perlu dan penting sejak dini diperintahkan melaksanakan shaum, tetapi
bukan sebagai kewajiban syar'i bagi anak melainkan sebagai pelajaran
(baca: latihan dan pembiasaan).. (Al-Katani: Mu'jamu Fiqh as-Salafi: 52).

Pendidikan anak sejak dini merupakan salah satu central issue yang
yang mendapat perhatian besar dalam Islam. Pendidikan adalah
satu-satunya pintu membentuk generasi bangsa yang memiliki karakter
salimul aqidah (aqidah yang bersih), shahihul i'badah (ibadah yang
benar), matinul khuluq (akhlak yang kokoh), mutsaqaful fikri (wawasan
berfikir yang luas), qawiyul jismi (jasmani yang sehat dan kuat) dan
nafi'un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain). Meminjam pernyataan
M. Natsir (Kapita Selekta) yang mengatakan, "Maju Mundurnya sebuah
bangsa sangat tergantung dari pendidikan yang diselenggarakan bangsa itu".

Al-Qur'an, dalam banyak ayat, memerintahkan para orangtua untuk sejak
dini mendidik anak-anaknya:

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata pada anaknya, diwaktu ia memberi
pelajaran kepada anaknya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezhaliman yang besar". (Luqman: 13)

"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang
baik dan cegahlah (mereka) dari mengerjakan perbuatan yang munkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian
itu, termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu
dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu Sesungguhnya seburuk-buruk
suara adalah suara keledai". (Luqman: 19).

Demikian juga halnya dengan pelatihan dan pembiasaan shaum bagi
anak-anak. Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan Rabi' binti Muawwidz
ra., pada suatu pagi di hari Asy-Syura, beliau menulis surat kepada
penduduk dusun di sekitar kota Madinah, yang dihuni kaum Anshar:

"Barang siapa yang pagi-pagi dalam keadaan berpuasa hendaklah ia
menyempurnakan puasanya. Barang siapa pagi-pagi sudah dalam keadaan
berbuka, hendaklah selebihnya ia sempurnakan. (Kemudian kaum Anshar ):
"Setelah itu kami selalu berpuasa pada hari asy-Syura dan menyuruh
anak-anak kecil kami untuk ikut berpuasa. Kami pergi ke masjid. Kami
buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila ada diantara mereka yang
menangis karena minta makanan, kami berikan mainan tersebut kepadanya,
hingga hal itu berlangsung sampai waktunya berbuka". (HR Bukhari dan
Muslim).

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, anak-anak sudah lazim
melaksanakan puasa. Kesimpulan yang dapat kita cuplik dari hadits yang
menceritakan Umar marah besar kepada orang yang mabuk di bulan
Ramadhan, "Celaka kau, sedangkan anak-anak kecil kami saja menunaikan
puasa". (Bukhari, Bab Shaum as-Shibyan, 29-30)

Sungguh benar, shaum (ataupun ibadah-ibadah lainnya) belum menjadi
suatu kewajiban syariah bagi anak-anak, karena mereka belum berstatus
mukallaf. Tetapi, berdasar nash-nash Al-Qur'an dan hadits, merupakan
kewajiban syariah kepada setiap orang tua untuk mendidik, melatih, dan
membiasakan mereka sejak dini untuk melakukan shaum (dan ibadah-ibadah
lainnya) sesuai dengan kemampuan mereka, sebagai upaya persiapan bagi
mereka bila saatnya tiba dimana ibadah itu telah wajib mereka
tunaikan, maka tidak ada suatu beban ataupun keberatan lagi pada
mereka apalagi adanya penolakan.

Syarat Melatih Anak Kecil berpuasa:

1. Harus sehat.

si kecil pada usia balita masih belum berkembang sempurna serta masih membutuhkan asupan gizi yang lebih lengkap. Dengan kesehatan yang oke, diharapkan anak tetap prima dalam menjalankan ibadah puasa, disamping menghindari anak jatuh sakit. Bila perlu, lakukan secara bertahap. Misalnya hari pertama puasa: sampai jam 9, hari kedua puasa sampai setengah hari dst.

2. kegiatan berpuasa ini adalah sebuah pelatihan, pengkondisian, pembiasaan dan penyiapan anak agar akrab dengan aktifitas ibadah. Bukan sesuatu yang final sehingga kebijaksanan yang diterapkan harus fleksibel sesuaidengan kondisi umur, fisik dan keadaan psikologis anak.

Pada masa kini, tumbuh suatu anggapan bahwa tindakan para orang tua
kaum muslimin memerintahkan anak berpuasa merupakan tindakan kekerasan
orang tua pada anak. Suatu anggapan yang tidak memiliki dasar
pengetahuan apa pun. Karena :
1.  melatih anak berpuasa tidak sama
dengan mewajibkan mereka berpuasa. 
Rasulullah saw. menegaskan: "Tidak
ada kewajiban syar'i bagi anak-anak yang belum baligh". 

2. dalam melatih anak berpuasa, harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan
anak. Al-Qur'an menegaskan: "Allah swt. tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (Al-Baqarah: 286).

3. dilaksanakan sungguh-sungguh sehingga anak merasa sejak dini bahwa sebuah pekerjaan sesulit apapun harus dikerjakan secara serius.

4. Peran orang tua sebagai teman, bukan sebagai pengawas.

Tips Melatih Anak kecil berpuasa:

1. Mempersiapkan mentalnya.

JAuh sebelum puasa dilakukan, berikan pengertian pada anak dengan bahasa dan sarana yang mudah dimengerti oleh anak. Mental anak juga harus dijaga selama menjalani puasa.

2. Mempersiapkan fisik

Kekuatan tubuh balita dan orang dewasa sangatlah berbeda. Jadi, diperlukan strategi jitu orang tua dalam mempersiapkan agar anak tetap sehat dan tahan dalam berpuasa. Anatara lain dengan cara :

a. Berikan makanan dan minuman yang sehat , bergizi dan cukup. Jenis makanan tambahan seperti susu juga tetap perlu diberikan. Apalagi saat berpuasa, anak tentu memerlukan energi yang lebih besar ketimbang saat hari-hari biasa.pastikan si kecil akan tetap merasa bugar selama ia berpuasa.

b. Jangan memberi si kecil makanan dan minuman yang merangsang selama berbuka puasa, karena akan mengganggu kerja lambung misalnya makanan yang asam, bersantan, atau pedas.

c. Anak juga diwajibkan melakukan istirahat atau tidur yang cukup untuk menjaga ketahanan tubuhnya,

d. Berikan dan Biarkan si kecil untuk tetap aktif beraktivitas. Tapi, berikan anjuran agar ia tidak melakukan aktifitas berat atau berlebihan selayaknya jika sedang tidak puasa.

e. Bantu si kecil dengan memberinya asupan makanan yang tepat agar ia tidak mudah tersa lapar. Sehingga baginya, berpuasa merupakan ibadah yang menyenangkan

3. Mengkondisikan teman

Sebaiknya orang tua menghindarkan anak bersama dengan anak lain yang tidak berpuasa pada saat jam makan, karena anak masih mudah tergoda oleh makanan /minuman yang lezat.

4. Mengarahkan anak agar tidak melihat hal yang dikhawatirkan menggoyahkan puasa anak hingga batal. Misalnya tayangan televisi dengan iklan minuman segar dll.

5. Memberikan kegiatan yang positif .

6. Membuat suasana sahur dan berbuka menjadi menyenangkan.

7. Bertawakkal kepada Allah Ta`ala.

Tips Kegiatan Anak di Bulan Ramadhan

Dengan bersandar pada sunnah Rasulullah saat menyambut maupun
aktivitas beliau di bulan Ramadhan, dapat direfleksikan ke dalam
kegiatan anak di bulan Ramadhan, sebabagai berikut:

1. Mengadakan kegiatan kolosal anak-anak di lingkungan tempat tinggal
atau wilayah yang lebih luas, seperti pembudayaan membersihkan dan
menghias rumah dan lingkungan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan
dan festival pawai menyambut Ramadhan. Aktivitas ini dimaksudkan untuk
memberikan rasa kegembiraan kepada anak dengan tibanya bulan Ramadhan.

3. Mengadakan ifthar jama'i (buka puasa bersama) baik dalam keluarga
mapun lingkungan yang lebih besar seperti di masjid atau di sekolah.
Kegiatan ini akan menjadi sebuah kesempatan yang dapat menggembirakan
anak-anak dalam melaksanakan puasa dan mempererat persahabatan antar
mereka.

4. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasul di bulan Ramadhan dalam keluarga
atau di sekolah dan masjid, seperti: melaksanakan shalat tarawih,
membaca qur'an, shalat dhuha, memberi shadaqah dan sebagainya yang
dapat dimodifikasi dengan selingan, misalnya pembacaan cerita atau
permainan lainnya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkenalkan
sunnah-sunnah Rasul di bulan Ramadhan kepada anak-anak dengan cara
yang menggembirakan.

5. Melibatkan anak-anak dalam kepanitiaan penerimaan dan penyaluran
zakat, infaq dan shadaqah. Insya Allah melalui kegiatan ini anak-anak
terlatih kepekaan sosialnya dan mengembangkan potensi kepemimpinannya.

6. Mengadakan aneka perlombaan dalam berbagai bidang, seperti: lomba
puasa, tahsin dan tahfizh al-Qur'an, lomba berdo'a, lomba busana
muslimah, lomba melukis yang berkaitan dengan suasana Ramadhan, lomba
kaligrafi, lomba melantunkan nasyid, cerpen atau puisi-puisi religius,
dan lain-lain. Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin kental dalam
jiwa anak bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang menyenangkan dan
bulan yang memberi mereka pengalaman yang banyak dalam mengembangkan
potensi dan kemampuan mereka.

7. Mengikutsertakan anak-anak dalam aktivitas i'tikaf yang dikelola
khusus untuk anak-anak agar tidak mengganggu kegiatan i'tikaf orang
tua mereka. Insya Allah kegiatan ini akan semakin melekatkan jiwa
mereka pada masjid.

Tentu para orang tua akan tidak pernah kehabisan cara dalam memotivasi
anak agar mau melaksanakan latihan puasa dengan cara-cara yang
menggembirakan dalam berbagai bentuk kegiatan.

Hentikan segera puasa jika si kecil:

  1. Kelihatan terlalu lemas, berkeringat dingin, dan mengalami muntah-muntah, atau kondisi lain yang menandakan si kecil tengah mengalami dehidrasi.

  2. Terjadi penurunan berat badan secara dratis. Karena jika dipaksakan dikuatirkan kesehatan si kecil malah menjadi terganggu.

Jadi, kelirulah orang tua yang mengannggap bahwa pelarangan terhadap anak-anak mereka untuk berpuasa merupakan kasih sayang buat mereka dan merasa kasihan. Padahal, hakikatnya mengasihi para anak itu ialah dengan memerintahkan mereka untuk mengerjakan syariat-syariat Islam dan membiasakannya. Karena ini tidak diragukan lagi adalah sebaik-baik mendidik mereka dan sempurna dia dalam mengatur orang yang di bawah pimpinannya (tanggung jawabnya). Telah bersabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam (yang artinya):

“Sesungguhnya seseorang itu akan menjadi pemimpin terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhari No. 2409, Muslim No. 1829)

Sepantasnya bagi para pemimpin yaitu orang-orang yang Allah jadikan di sebagai pemimpin terhadap keluarganya dan anak-anak kecil untuk bertakwa (takut) kepada Allah dalam urusan mereka dan hendaklah para pemimpin itu memerintahkan mereka dengan syariat Islam.

oleh: http://www.rumahkusorgaku.wordpress.com

http://www.mail-archive.com/sobat-azzam@yahoogroups.com/msg00776.html

http://www.conectique.

syukurmandiritama.wordpress.com

ghuroba.blogsome.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: