Sepuluh Langkah untuk Keberhasilan/Sukses Menyusui

Agustus 10, 2008 pukul 8:08 am | Ditulis dalam ASI (Air Susu Ibu) | 1 Komentar
Tag:

Sejak seorang wanita memasuki kehidupan berkeluarga, padanya harus sudah tertanam suatu keyakinan “SAYA HARUS MENYUSUI BAYI SAYA KARENA MENYUSUI ADALAH REALISASI DARI TUGAS YANG WAJAR DAN MULIA SEORANG IBU”

Seorang anak merupakan juga amanah dari Allah Ta`ala. Karena itu sebagai orang tua suadah seharusnya memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, termasuk memberikan ASI.

ASI selalu merupakan makanan terbaik untuk bayi walaupun ibu sedang sakit, hamil, haid atau kurang gizi. ASI mengandung semua zat gizi, yang diperlukan bayi dalam 6 bulan pertama kehidupan, dianjurkan agar pada masa ini bayi hanya diberikan ASI.

Berikut adalah hal-hal  yang harus diketahui agar ibu sukses memberikasn ASI.

Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui
Langkah 1:
Buatlah kebijaksanaan tertulis mengenai pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas pelayanan kesehatan.
Semua RS, RSB, Puskeemas maupun RB harus memiliki kebijaksanaan tertulis mengenai pemberian ASI yang mencakup sepuluh langkah keberhasilan menyusui. Selain itu juga mempunyai kebijakan yang melarang promosi susu formula sesuai dengan Juklak Dep.Kes. tahun 1991 tentang Permenkes notasi. 240 tahun 1985.
Dimana semua kebijakan tersebut harus dikomunikasikan secara rutin kepada semua
star dan dipasang pada tempat yang mudah terlihat oleh semua orang yang datang ke Pelayanan Kesehatan tersebut.
Langkah 2 :
Latihlah semua petugas kesehatan untuk dapat melaksanakan hal-hal yang disebutkan dalam kebijaksanaan tertulis mengenai pemberian ASI.
Dalam melaksanakan PP-ASI di Rumah Sakit pelatihan kepada petugas meliputi :
– 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan kebijakan mengenai pemberian ASI
–  Pelatihan paling sedikit 16 jam dan pengalaman klinik paling sedikit 3 jam, kemudian diikuti supervisi.
–  Pelatihan/penyegaran dilakukan secara berkelanjutan terhadap semua star yang terkait terhadap PP-ASI.
Langkah 3:
Beritahukan kepada para ibu hamil tentang keuntungan pemberian ASI dan manajemen laktasi.
Pada klinik pelayanan pranatal, kepada para ibu hamil diberikan :

  • –  Informasi mengenai keuntungan menyusui dan manajemen laktasi.-  Bimbingan khusus kepada ibu hamil yang belum pernah menyusui dan ibu yang mempunyai masalah laktasi.
  • – Kalau memungkinkan penyuluhan diberikan dengan menggunakan alat “audiovisual”, alat peraga, poster, atau diberikan semacam “leaflet”.
  • – Tidak ada poster susu forDlula di tempat pelayanan kesehatan.

Langkah 4:
Bantulah para ibu mengawali pembenan ASI dalam setengah jam pertama setelah melahirkan.
Kepada para ibu dalam setengah jam pertama setelah melahirkan diberi bantuan oleh petugas untuk :
–  Ibu dapat saling bersentuhari dengan bayinya/mengawali pemberian ASI.
–  Kepada ibu dengan bedah besar (kalau ibu dan anak dalam keadaan sehat), harus diberikan kesempatan untUk saling bersentuhan/mengawali menyusui dalam setengah jam setelah ibu sadar dan selanjutnya dilakukan rawat gabung.
Langkah 5:
Tunjukkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan cara mempertahankan laktasi walaupun mereka harus terpisah dari bayi mereka.
Petugas yang terkait dengan peningkatan penggunaan ASI:

  • – Memberikan bantuan kepada semua ibu bagaimana cara menyusui yang benar , dalam waktu 6 jam setelah melahirkan.
  • – Diperlihatkan kepada semua ibu yang menyusui bagaimana tara meletakkan bayi dan melekatkan mulut bayi dengan benar pada saat bayi sedang menyusu.
  • -Kepada ibu-ibu yang menyusui diberi petunjukbagaimana caranya mengeluarkan ASI secara manual, apabila terpaksa ibu terpisah dari bayinya. Dengan demikian produksi ASI dapat tetap dipertahankan daD ASI-nya dapat diberikan kepada bayinya.
  • -Ibu-ibu yang belum pemah menyusui dan ibu-ibu dengan masalah laktasi, diberi bantuan khusus dan nasihat mengenai di mana mereka dapat memperoleh bantuan kalau nanti masih ada masalah setelah mereka pulang.

Langkah 6:
Jangan beri makanan atau minuman lain kepada bayi yang baru lahir selain ASI, kecuali ada indikasi medis yang jelas.
Petugas yang terkait dengan peningkatan penggunaan ASI:

  • -Tidak memberikan minuman lain selain ASI, kecuali atas indikasi yang jelas.Misalnya: ibu dengan komplikasi persalinan yang berat sehingga tidak memungkinkan pada saat itu untuk menyusui.
  • – Tidak ada promosi susu formula di Rumah Sakit. Misal: tidak memberikan sampel susu formula pada bayi waktu dipulangkan dari RS, tidak ada poster susu formula, tidak menjual susu dengan harga murah dan sebagainya.

Langkah 7:
Setelah melahirkan, ibu dan bayi dirawat bersama dalam satu kamar selama 24jam sehari. Pemisahan hanya dilakukan kalau ada indikasi medis yang jelas.
– Harus ada fasilitas rawat gabung di rumah sakit /RSB/Puskesmas.
–  Untuk bayi yang lahir normal, bayi selalu bersama ibu.
–  Untuk ibu/bayi yang mengalami komplikasi, rawat gabung dilakukan setelah kondisinya memungkinkan untuk rawat gabung.

Langkah 8:
Anjurkan pemberian ASI tanpa dijadwal (on demand).
Kepada ibu-ibu yang menyusui dianjurkan memberikan ASI bila bayi maupun ibu menghendaki, tanpa dijadwal. Karena pemberian ASI yang tanpa dijadwal, disertai dengan tidak ada pembatasan mengenai lama maupun frekuensi pemberian ASI, akan melancarkan produksi ASI.
Langkah 9:
Jangan beri dot atau kempeng kepada bayi yang sedang menyusu. Petugas yang terkait dengan peningkatan penggunaan ASI, dianjurkan tidak memberikan susu dengan menggunakan dot atau memberi kempeng (pacifier)kepada bayi yang baru belajar menyusu, karena dapat mengakibatkan bayi bingung puting.
Bila bayi dirawat terpisah, ASI diberikan dengan sendok, pipet.  Demikian
pula pemakaian susu formula atas indikasi medis, tidak diberikan dengan menggunakan botol dot.
Langkah 10:
Bantulah perkembangan kelompok pengdukung ASI dan rujuklah ibu kepada kelompok tersebut, setelah ibu keluar dari rumah sakit.
Setiap rumah sakit/rumah bersalin/Puskesmas dengan tempat tidur sebaiknya terdapat KP-ASI (Kelompok Pendukung ASI), yang membantu ibu-ibu yang mengalami masalah laktasi, maupun untuk meyakinkan ibu-ibu tentang manfaat menyusui terutama pada mereka yang untuk pertama kali menyusui bayinya. Disamping itu harus ada klinik laktasi yang dikelola oleh tenaga profesional yang pemah mendapat pelatihan laktasi. Dengan demikian ibu-ibu yang menyusui akan merasa lebih aman dan tenang karena mendapat dukungan dari sekitarnya, sehingga kelangsungan ibu untuk menyusui anaknya dipertahankan sampai anak sudah dapat makan makanan keluarga dengan baik yaitu sekitar usia 2 tahun. Harus ditekankan pula kepada ibu-ibu agar sedapat mungkin memberikan ASI saja Sampai anak berumur 6 bulan, setelah itu baru diberikan makanan tambahan.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan ASI antara lain:
1. Perubahan sosial budaya
@Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.

Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di kebutuhan masyarakat menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui.
@ Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. Persepsi masyarakatkan gaya hidup mewah membawa dampak menurutnya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi kalangan terentu bahwa susu botol sangat cocok buat bayi dan terbaik. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain, atau tanya untuk prestise.
@Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.
Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara barat mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air susu buatan sebagai jalan keluarnya.
2. Faktor psikologis
* Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi selalu mengubah payudara, walaupun menyusui atau tidak menyusui.
* Tekanan batin.
Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui bayi sehingga dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya, bahkan mengurangi menyusui.
3. Faktor fisik ibu
Alasan yang cukup sering basi ibu untuk menyusui adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Tetapi. sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan berhenti menyusui. Dari jauh lebih berbahaya untuk mulai memberi bayi makanan buatan daripada membiarkan bayi menyusu dari ibunya yang sakit.
4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat dan cara pemanfaatannya.
5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan periklanan distribusi susu buatan menimbulkan tumbuhnya kesediaan menyusui dan lamanya baik di desa dan perkotaan. Distibusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat titik hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga ditempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat di Indonesia.
6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng.
Penyediaan susu bubuk di Puskesmas disertai pandangan untuk meningkatkan gizi bayi, seringkali menyebabkan salah arah dan meningkatkan pemberian susu botol.
Prornosi ASI yang efektif haruslah dimulai pada profesi kedokteran, meliputi pendidikan di sekolah-sekolah kedokteran yang menekankan pentingnya ASI dan nilai ASI pada umur 2 tahun atau lebih.
7. Faktor pengelolaan laktasi di ruang bersalin
Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi hendaknya disusui segera atau sedini
mungkin setelah lahir. Namun tidak semua persalinan berjalan normal dan tidak semua dapat dilaksanakan menyusui dini.

Ada beberapa persalinan yang terpaksa tidak dapat berjalan lancar dan terpaksa dilakukan dengan tindakan persalinan misalnya seksio sesaria. Dengan mengingat hal diatas, pengelolaan laktasi dapat dikelompokkan 2 cara, yaitu persalinan normal dan persalinan dengan tindakan.
a. Persalinan normal
Pada persalinan normal, ibu dan bayi dalam keadaan sehat. Oleh karena itu, dapat segera dilaksanakan menyusui dini. Hal tersebut perlu oleh karena menyusui dini mempunyai beberapa manfaat baik terhadap ibu maupun terhadap bayi. Kalau bisa bayi disusukan ke kedua puting ibu secara bergantian. Setelah jalan nafasnya dibersihkan, usahakan menyusui sedini mungkin dan tidak melebihi waktu lewat ½ jam sesudah lahir.
b. Persalinan dengan tindakan
Dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian masalah :
1. Persalinan dengan tindakan narkosa misalnya seksio sesaria menyusui dini perlu ditunda sampai pasien sadar, karena ASI pada ibu dan tindakan ini mempunyai efek terhadap bayi. Misalnya bayi menjadi mengantuk sehingga malas menyusu. Sebaiknya sesudah ibu sadar ditanyakan dahulu untuk menyusui bayinya pada saat tersebut.
2. Persalinan dengan tindakan tanpa narkosa. Persalinan dengan tindakan tanpa narkosa yang kemungkinan mempunyai pengaruh pada bayi. Dalam hal ini bayi tidak dapat menyusui secara aktif , oleh karena itu ASI diberi secara aktif pasif yaitu dengan pipet/sendok. Walaupun demikian bila keadaan bayi memungkinkan untuk diangkat menyusui dini dapat dilakukan seperti biasa. Pendapat daripada ahli-ahli kesehatan dan kebiasaan rumah-rumah sakit mempunyai dampak terhadap pendapat para ibu tentang alternatif pemberian susu kepada bayi. Terutama bagi ibu-ibu yang melahirkan perlu sekali diberi penyuluhan tentang cara-cara pemberian ASI yang menjamin kelancaran produksi ASI sejak bayi lahir.
8. Faktor lain
Ada beberapa bagian keadaan yang tidak memungkinkan ibu untuk menyusui bayinya walaupun produksinya cukup, seperti :
a. Berhubungan dengan kesehatan seperti adanya penyakit yang diderita sehingga dilarang oleh dokter untuk menyusui, yang dianggap baik untuk kepentingan ibu (seperti : gagal jantung, Hb rendah)
b. Masih seringnya dijumpai di rumah sakit (rumah sakit bersalin) pada hari pertama kelahiran oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya, walaupun sebagian besar daripada ibu-ibu yang melahirkan di kamar mereka sendiri, hampir setengah dari bayi mereka diberi susu buatan atau larutan glukosa.
Di kota-kota besar di dunia ditemukan adanya kecenderungan menurunnya angka ibu menyusui anaknya yang dilewati dengan kecenderungan memberikan susu
botol sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup mewah. Banyak diantara penduduk kota menikmati standar hidup setingkat dengan keluarga masyarakat yang hidup mewah di negara barat, misal pengusaha, pedagang, pejabat, petugas dan para pemimpin politik. Para dokter dan petugas kesehatan yang memelihara gaya hidup ini bersemangat untuk menganjurkan dan menggalakkan praktek-praktek yang dianggap maju dan modem. Kecenderungan memberikan pemberian ASI ini disebabkan gaya hidup tersebut.

Peranan petugas rumah sakit
Sebagaimana halnya pengalaman dibanyak negara didunia bahwa penurunan pemberian ASI ada hubungannya dengan cara-cara yang dilakukan di rumah sakit, sikap dan perhatian para ahli kesehatan yang berkaitan dengan menyusui sangatdiperlukan, terutama dalam menghadapi promosi-promosi pabrik pembuat susu formula bayi.
Posisi strategis dari peranan instansi kesehatan dan para petugas kesehatan di Indonesia terutama di rumah sakit-rumah sakit sangat bermanfaat bagi pelaksanaan kegiatan operasional pemasyarakatan ASI.
Peranan petugas kesehatan khususnya di rumah sakit dimana ibu ditolong dalam melahirkan sangat menentukan tentang cara memberi yang baik. Penerangan
mengenai pemberian ASI oleh petugas kesehatan tentang pemberian ASI yang pertama keluar (kolostrum) sangat diperlukan oleh karena pengalaman yang ditemukan selama ini kolostrum biasanya dibuang. Peranan petugas kesehatan sangat diperlukan dalam hal penyuluhan mengenai cara merawat dan membersihkan payudara dan agar ibu tetap terus menyusui anaknya agar ASI-nya keluar dan memberi penerangan agar ibu tidak memberi susu kaleng kepada bayi/anak serta nasehat tentang gizi, makanan yang bergizi untuk ibu menyusui.
Peranan petugas dalam pendidikan kesehatan pada keluarga khususnya ibu Pendidikan kesehatan tidak hanya berupa bimbingan pribadi tetapi juga
pendidikan umum bagi masyarakat. Petugas kesehatan harus mencoba mendidik masyarakat mengenai cara menyusui dan apa yang harus dilakukan oleh si ibu. Akan tetapi petugas kesehatan harus mengetahui masyarakat yang bagaimana di tempat dia bekerja dan harus diketahui pula apa yang telah dilakukan masyarakat untuk kesehatan mereka sendiri termasuk kebiasaan pemberian makan basi bayi dalam keluarga/rnasyarakat yang bersangkutan.
Pendidikan kesehatan dapat diberikan pada masyarakat/keluarga dengan
beberapa cara, antara lain:
1. Bekerja sama dengan dukun bersalin dan memberi penerangan agar ibu tidak memberi susu kaleng kepada bayi/anak serta nasehat tentang gizi makanan yang bergizi untuk ibu menyusui.

2. Bekerja melalui kelompok dalam masyarakat
Petugas kesehatan harus berbicara dengan masyarakat setempat mengenai apa yang hendak dilakukannya. Petugas kesehatan perlu mencari kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat seperti kelompok jemaat atau kelompok wanita yang dapat diajak berbicara.
3. Menyuluh ibu-ibu yang datang ke BKIA
Petugas kesehatan harus selalu yakin bahwa menyusui merupakan topik yang harus dimasukkan dalam penyuluhan di BKIA, diruang rawat jalan rumah sakit, di puskesmas. Tidak perlu berbicara mengenai menyusui setiap minggu. Sebaiknya menyusui merupakan salah satu topik dalam rencana pendidikan kesehatan. Petugas kesehatan harus mencoba untuk berdiskusi dengan ibu bukan berceramah.
4. Melalui penggunaan media
Dapat digunakan surat kabar, televisi dan radio untuk menyampaikan pesan tentang menyusui anak. Cara ini paling mudah dilakukan di kota-kota besar
5. Menggunakan selebaran dan poster
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan oleh petugas kesehatan dengan cara menempelkan poster menyusui yang baik di rumah sakit dan puskesmas. Dan dapat membagikan selebaran bagi pasien untuk dapat dibaca agar membantu masyarakat untuk selalu ingat akan pesan-pesan yang benar.

Kurangnya petugas kesehatan yang bertugas di perkotaan terutama dipedesaan menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu-ibu terhadap fungsi-fungsi ASI pada anaknya. Petugas kesehatan yang seyogjanya memberikan penyuluhan mengenai manfaat ASI kurang merata distribusinya sehingga persepsi dan pengetahuan tentang ASI sangat minim. Di masyarakat banyak dijumpai kebiasaan ibu-ibu yang bertentangan dengan kesehatan dalam pemberian ASI. Kebiasaan-kebiasan tersebut antara lain:
1. Adanya kebiasaan masyarakat membuang kolostrum (susu pertama) karena anggapan kolostrum tersebut menyebabkan penyakit bagi sibayi padahal meningkatkan kesehatan. Kolostrum merupakan yang paling tinggi gizi dan zat kekebalannya.
2. Adanya anggapan masyarakat bahwa ASI bisa basi. Padahal dari medisnya ASI tidak pernah basi dalam payudara walau ibu tidak menyusui bayinya selama beberapa hari.
Alasan yang cukup sering bagi ibu untuk berhenti menyusui karena ibu sakit tetapi jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan berhenti menyusui.

oleh: Dr. MHD. ARIFIN SIREGAR
Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara

library.usu.ac.id

http://www.rumahkusorgaku.wordpress.com

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. informasi yng sangat menarik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: